Belanja di toko resmi kami, TikTok Shop, Shopee, dan stockist di seluruh Indonesia

Mama's Choice

Bayi Prematur Juga Bisa Sehat! Ini Faktanya

Dulu, bayi prematur berkaitan erat dengan risiko gangguan kesehatan. Namun, kini bayi prematur juga bisa sehat lho, simak tipsnya berikut ini!

Ditulis oleh Tim Mama's ChoiceArtikel ini belum ditinjau oleh tenaga kesehatan.Terbit Diperbarui 4 menit baca
Bayi Prematur Juga Bisa Sehat! Ini Faktanya

Pada umumnya, kehamilan berlangsung sekitar 40 minggu, yaitu dalam rentang 37 hingga 42 minggu. Sedangkan, bayi yang lahir sebelum menyentuh usia kehamilan 37 minggu dikenal sebagai kondisi prematur.

Dulu, bayi prematur berkaitan erat dengan risiko gangguan kesehatan. Namun seiring dengan berkembangnya kecanggihan teknologi, kini bayi prematur juga bisa sehat lho, Ma! 

Fakta Kesehatan Bayi Prematur

Trimester ketiga dalam kehamilan adalah masa paling krusial bagi pertumbuhan janin. Kelahiran  prematur mengakibatkan pematangan organ janin belum sempurna, sehingga menimbulkan kondisi kesehatan yang lebih rentan. 

bayi prematur juga bisa sehat

Bayi prematur juga bisa sehat! Namun Journal of American Medical Association melaporkan fakta menggembirakan. Hasil penelitian terhadap lebih dari 2,5 juta anak yang lahir prematur menunjukkan bahwa lebih dari setengah dari mereka tidak memiliki masalah medis yang serius saat dewasa. 

“Temuan ini penting bagi mereka yang lahir prematur, karena menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka dapat menjalani hidup yang sehat dan tangguh dengan fungsi keseluruhan yang baik di masa dewasa,”, dr. Casey Crump

Jadi bagi Mama yang melahirkan bayi prematur, jangan langsung sedih ya. Walau membutuhkan perhatian ekstra, Si Kecil juga bisa sehat seperti bayi lainnya. 

Artikel Terkait: Apakah Sakit Gigi Saat Hamil Membuat Bayi Prematur?

Tips Merawat Bayi Prematur

Ada beberapa hal penting yang perlu Mama perhatikan supaya Si Kecil yang lahir prematur bisa tumbuh sehat. Apa saja ya?

1. Perlu kehangatan ekstra

Mama bisa melakukan teknik kangaroo mother careatau metode kangguru untuk bayi prematur dengan cara meletakkan Si Kecil di dada. Biarkan bayi telanjang (cukup popok, boleh dengan kaus kaki dan topi) untuk memaksimalkan kontak kulit ke kulit. 

metode kangguru (kangaroo mother care) untuk bayi prematur

Dapatkan posisi lebih stabil dan aman dengan melilitkan kain gendong. Semakin lama teknik kangaroo mother care dilakukan, semakin baik. Selain menghangatkan bayi prematur, posisi ini juga dapat merangsang produksi ASI.

Metode ini juga boleh dilakukan bergantian dengan Papa.

2. Harus steril

Infeksi lebih mungkin terjadi pada bayi prematur karena sistem kekebalan tubuh mereka belum sepenuhnya berkembang. Karena itu kebersihan tangan setiap orang yang menyentuhnya, dan kebersihan apa pun yang menempel di kulitnya, jadi hal yang paling menentukan.

Cuci tangan setiap kali sebelum menyentuh Si Kecil. Ini pencegahan infeksi yang paling penting pada bayi prematur, karena sepsis adalah salah satu risiko terbesar mereka. Gunakan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik. Bila air mengalir tidak tersedia, pakai hand sanitizer berbasis alkohol minimal 60%, tunggu sampai tangan benar-benar kering sebelum menyentuh bayi, karena yang mengiritasi kulit bayi adalah alkohol yang masih basah, bukan tangan yang sudah kering. Aturan yang sama berlaku untuk semua orang yang menggendong Si Kecil.

Entah produk perawatannya maupun produk pembersihnya, serahkan pada Mama’s Choice. Seluruh produk kami teruji klinis aman dari bahan berbahaya seperti Alkohol, Paraben, SLS/SLES, Triclosan, dan Phthalates.

Mencuci pakaian bayi

3. Berikan ASI

Lemak dalam ASI dapat meningkatkan perkembangan otak dan jaringan syaraf dengan baik. Bayi prematur yang menerima ASI lebih kecil kemungkinannya mengalami infeksi usus daripada mereka yang diberi susu formula. Kalau Si Kecil belum bisa menyusu langsung, Mama bisa memberikan ASI perah segera setelah melahirkan.

TIPS: Gunakan botol anti kolik untuk memberikan ASI Perah, teknologinya mencegah angin terperangkap di dot agar bayi tidak kembung dan kolik.

3. Berikan ASI

4. Rajin berkonsultasi dengan dokter

Pantau terus kondisi Si Kecil dan rajin berkonsultasi dengan dokter langganan Mama. Setiap bayi prematur lahir dengan kondisi dan kebutuhan yang berbeda-beda. Karena itu saran dari dokter sangat diperlukan agar Si Kecil bisa tumbuh dengan sehat.

5. Perhatikan kesehatan Mama

Kesehatan anak juga tidak terlepas dari ibu yang merawatnya. Untuk itu, kelilingi diri Mama dengan hal-hal positif supaya bisa jauh dari stres.

Jangan lupa makan makanan bergizi, sempatkan istirahat, dan secara terbuka minta dukungan emosional dan fisik dari Papa, untuk bergantian menjaga Si Kecil misalnya.

Mama’s Choice akan selalu mendukung Mama dalam melewati setiap perjalanan keibuan. Kami menyediakan berbagai produk perawatan yang aman, natural, dan Halal dengan harga terjangkau. Dengan demikian, Mama bisa merawat Si Kecil dengan tenang, dan serahkan sisanya kepada kami!

Semoga informasi ini bermanfaat untuk Mama dan Si Kecil supaya ia tumbuh dengan sehat!

5. Perhatikan kesehatan Mama

Pakai Usia Koreksi

Ini hal yang paling sering membuat Mama cemas tanpa perlu.

Bayi prematur dinilai perkembangannya berdasarkan usia koreksi (corrected age), yaitu usia sejak lahir dikurangi jumlah minggu ia lahir lebih awal. Bayi yang lahir pada usia kehamilan 32 minggu berarti lahir 8 minggu lebih cepat; saat usianya 6 bulan, usia koreksinya adalah 4 bulan.

Artinya, milestone seperti tengkurap, duduk, dan berjalan dibandingkan dengan patokan 4 bulan, bukan 6 bulan.

Usia koreksi dipakai setidaknya sampai anak berusia 2 tahun. Setelah itu, sebagian besar anak yang lahir prematur sudah menyusul teman seusianya dan penilaiannya kembali memakai usia kronologis.

Jadi kalau Si Kecil tampak "tertinggal" dari bayi lain seusianya, hitung dulu usia koreksinya sebelum khawatir. Dan bila Mama tetap ragu, bawalah catatan usia gestasi saat kontrol supaya dokter menilainya dengan patokan yang tepat.

Sumber: 

Webmd.com

Who.int, Who.int

Healthychildren.org

Mayoclinic.org

Sumber

Bagikan artikel ini

Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Konsultasikan kondisi Mama dengan bidan atau dokter.

Baca juga