Survei: 88% Ibu Merasa Belum Menjadi Ibu yang Baik
Ternyata sebagian besar ibu belum merasa menjadi ibu yang baik, ini salah satu tanda depresi pasca melahirkan. Bagaimana cara memperbaikinya?

Menjadi ibu mengubah banyak hal dalam diri wanita. Selain mengubah peran, momentum melahirkan juga berdampak besar pada fisik dan hormon. Perubahan drastis ini rupanya bisa menimbulkan kecemasan, depresi pasca melahirkan, bahkan keraguan dalam diri seperti: “Apakah saya bisa menjadi ibu yang baik?”
88% Ibu Merasa Belum Menjadi Ibu yang Baik
Dalam jajak pendapat komunitas theAsianparent, media yang satu grup dengan Mama’s Choice namun beroperasi independen, 88% ibu yang menjadi responden merasa belum menjadi ibu yang baik.
Angka ini menggambarkan responden polling tersebut, bukan seluruh ibu di Indonesia. Rincian metode, jumlah peserta, tanggal, dan susunan pertanyaannya tidak tersedia pada kami, jadi bacalah sebagai gambaran perasaan yang umum dirasakan, bukan sebagai data prevalensi.
Dalam polling yang sama, 14% responden memberi dirinya nilai 10 dari 10 sebagai ibu. Sebagian besar menilai 7-8, dan seperempatnya bahkan hanya menilai dirinya 5-6!
Artinya, sebagian besar ibu kurang mengapresiasi dirinya atas peran baru yang dijalankan, sekalipun ia telah mengerahkan seluruh batas kemampuannya. Seperti dalam video ini.
Merasa ragu pada diri sendiri sangat umum dan tidak dengan sendirinya berarti Mama mengalami baby blues atau depresi pascapersalinan. Yang perlu diperhatikan adalah bila perasaan itu menetap hampir setiap hari lebih dari dua minggu dan mengganggu tidur, makan, atau kemampuan menjalani hari. Depresi pascapersalinan juga bukan disebabkan hormon semata. Banyak faktor ikut berperan, termasuk kurang tidur, dukungan yang minim, riwayat kesehatan mental, dan tekanan ekonomi. Untuk itu, mari kenali penyebab ibu mengalami berbagai keraguan-keraguan ini, dan bagaimana cara mengupayakan kesehatan mental ibu pasca melahirkan.
Artikel Terkait: Waspadai Gejala Baby Blues Pasca Melahirkan
Penyebab Depresi Pasca Melahirkan
Memang tak ada penyebab tunggal depresi pasca persalinan pada ibu, namun gangguan fisik dan emosional dapat menjadi faktor pemicunya.

-
Perubahan fisik. Setelah melahirkan, penurunan hormon yang drastis (estrogen, progesteron dan lain-lain) dalam tubuh ibu dapat menyebabkan depresi pasca melahirkan. Hal ini bisa membuat ibu lelah, lesu dan tertekan.
-
Masalah emosional. Saat kurang tidur dan kewalahan, ibu bisa kesulitan bahkan untuk menangani masalah sepele, mulai khawatir, dan meragukan kemampuan diri untuk merawat bayi. Selain itu, ibu bisa merasa terisolasi saat bergumul dengan identitas barunya.
Kombinasi atau salah satu masalah fisik dan emosional tersebut dapat menyebabkan depresi pasca melahirkan pada ibu. Namun, ibu bisa menghindari hal itu dengan cara berikut.
Cara Menjaga Kesehatan Mental Ibu Pasca Melahirkan
1. Mencari Support System

Play Date bisa membantu ibu mengurangi kejenuhan Support system ibu bisa terdiri dari pasangan, ibu, saudara, atau sahabat. Jika tidak memiliki kelompok dukungan yang kuat dalam keluarga, jangan dulu berkecil hati. Ibu bisa mengikuti komunitas ibu menyusui yang dapat saling berbagi pengalaman dan dukungan, kok.
2. Keluarkan Uneg-uneg
Ibu sebaiknya tidak menyimpan semuanya sendirian. Utarakan perasaan dengan perlahan dan jelas kepada suami, karena ini akan membuat lebih baik. Namun jika tidak nyaman berbicara dengan suami, boleh juga berkonsultasi dengan ahli dan psikolog yang bisa membantu mengatasi masalah ibu.

Minta bantuan kepada suami jika ibu kewalahan
3. Istirahat dan Me Time
Ada yang mengatakan, bahwa waktu tidur bayi adalah waktu tidur ibu. Itu benar adanya. Setelah melahirkan, ibu harus pandai mencari waktu istirahat. Bahkan bila perlu, ibu dapat sesekali meminta suami, ibu, atau mertua untuk menggantikan menjaga bayi supaya ibu bisa me time. Jelaskan bahwa ibu juga butuh waktu untuk re-charge agar lebih segar.

Ada berbagai aktivitas merawat diri yang bisa ibu lakukan untuk me time, seperti mandi, pijat, belanja, dan deliverymakanan lezat yang ibu sukai.
4. Afirmasi Positif
Selain dari support system, ibu juga perlu menguatkan dan mendukung diri sendiri. Hal-hal yang dapat membantu mental ibu tetap kuat, bangkit kembali dan mulai mencintai diri sendiri lagi, antara lain:
-
Berhenti membandingkan, perjalanan setiap ibu berbeda
-
Afirmasi positif: mengingatkan diri bahwa Anda cukup, Anda berharga, Anda adalah ibu yang baik terlepas dari semua pilihan yang telah diambil
-
Menghargai setiap usaha yang telah ibu lakukan bagi keluarga
Menyadari bahwa ibu sudah selalu berusaha memberikan yang terbaik, akan membuat perasaan ibu lebih baik.
Baca juga: Beda Caranya Sama Cintanya, Perjalanan Menyusui Setiap Ibu Berbeda
Mendukung Perjalanan Setiap Ibu dengan Memberi Pilihan Terbaik

Kami tahu bahwa ibu menghabiskan 24 jam dalam 7 hari dengan kesibukan merawat bayi atau bahkan tenggelam dalam kekhawatiran di waktu luang. Karenanya, kami ingin membantu ibu mengurangi berbagai kekhawatiran yang tak perlu seputar perawatan diri dan bayi.

Kami mendukung perjalanan setiap ibu, seperti Mama @adithyaputri Berangkat dari kepercayaan bahwa setiap keluarga berhak mendapatkan produk berkualitas, Mama’s Choice mengembangkan rangkaian perawatan ibu, perawatan bayi, hingga pembersih rumah yang aman dan Halal dengan harga terjangkau.
Dengan demikian, kami berharap ibu dapat lebih percaya diri dalam mengarungi perjalanannya sebagai ibu. Yuk #KurangiWorry bersama Mama’s Choice!

sumber:
Jajak pendapat The Asian Parents
Jajak pendapat The Asian Parents (2)
Catatan: angka 88% dan 14% berasal dari survei komunitas Mama's Choice, berlaku untuk responden yang disurvei, bukan untuk semua ibu di Indonesia. Responden survei komunitas cenderung merupakan orang yang tertarik pada topiknya, sehingga angkanya tidak dapat digeneralisasi. Ukuran sampel, tanggal, dan pertanyaan yang diajukan belum tersedia; sampai itu dilampirkan, perlakukan angka ini sebagai gambaran percakapan, bukan data prevalensi.
Dan depresi pascapersalinan tidak disebabkan oleh penurunan hormon saja. Riwayat depresi atau kecemasan, kurang tidur, kurang dukungan, kesulitan menyusui, persalinan yang traumatis, dan tekanan ekonomi semuanya berperan. Bila gejalanya menetap lebih dari dua minggu atau mengganggu aktivitas sehari-hari, cari bantuan profesional, dan segera bila muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau Si Kecil.
Bagikan artikel ini
Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Konsultasikan kondisi Mama dengan bidan atau dokter.