Belanja di toko resmi kami, TikTok Shop, Shopee, dan stockist di seluruh Indonesia

Mama's Choice

Jadwal dan Tahapan Imunisasi Wajib Bayi Baru Lahir

Imunisasi bayi baru lahir sangat penting lho Ma! Ada banyak risiko kesehatan yang terjadi jika tidak dilakukan, sehingga imunisasi wajib untuk bayi.

Ditulis oleh Tim Mama's ChoiceArtikel ini belum ditinjau oleh tenaga kesehatan.Terbit Diperbarui 3 menit baca
Dokter perempuan berhijab

Imunisasi bayi baru lahir sangat penting lho Ma! Ada banyak risiko kesehatan yang terjadi jika tidak dilakukan, sehingga imunisasi wajib untuk bayi. Pemberian imunisasi pun harus sesuai dengan jadwal imunisasi pada bayi. Yuk, simak jadwal dan tahapan imunisasi bayi baru lahir yang perlu Mama dan Papa tahu di sini!

Apa itu Imunisasi?

Imunisasi merupakan penyuntikan vaksin tertentu pada bayi sesuai dengan usia sebagai upaya menjaga kesehatannya dari penyakit tertentu. Kementerian Kesehatan atau Kemenkes telah mengubah konsep imunisasi dasar lengkap menjadi imunisasi rutin lengkap. Imunisasi rutin lengkap terdiri dari imunisasi dasar dan lanjutan. 

Tanpa imunisasi rutin, anak berisiko terkena penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. Risikonya nyata.

Jadi antarkan Si Kecil mendapat imunisasi wajibnya, ya!

Untuk Mama dan Papa yang baru menjadi orang tua, berikut merupakan jadwal serta tahap imunisasi bayi berdasarkan Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Tahun 2020.

Jadwal Imunisasi Rutin Bayi 0–12 Bulan

Jadwal berikut mengikuti program imunisasi nasional Kemenkes dan rekomendasi IDAI terbaru. Jadwal dapat disesuaikan oleh dokter sesuai kondisi Si Kecil.

Hepatitis B

HB0 diberikan dalam waktu kurang dari 24 jam setelah lahir. Selanjutnya, vaksin hepatitis B diberikan sebagai bagian dari vaksin kombinasi DPT-HB-Hib pada usia 2, 3, dan 4 bulan.

BCG

Diberikan 1 kali pada bayi usia kurang dari 1 bulan untuk melindungi dari tuberkulosis. Satu suntikan, seumur hidup.

Polio

OPV (tetes) diberikan pada usia kurang dari 1 bulan, lalu 2, 3, dan 4 bulan. IPV (suntik) diberikan pada usia 4 dan 9 bulan.

DPT-HB-Hib

Diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan, dengan dosis lanjutan pada usia 18 bulan. Melindungi dari difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, dan Haemophilus influenzae tipe b.

PCV

Diberikan pada usia 2 dan 3 bulan, kemudian dosis lanjutan pada usia 12 bulan. Melindungi dari infeksi pneumokokus, penyebab pneumonia dan meningitis.

Rotavirus

Imunisasi rotavirus diberikan 3 dosis pada usia 2, 3, dan 4 bulan. Ada batas usianya.

Campak-Rubela (MR)

Pada usia 9 bulan diberikan vaksin Campak-Rubela, kemudian dosis lanjutan pada usia 18 bulan.

Japanese Encephalitis (JE)

Vaksin JE diberikan mulai usia 10 bulan pada anak yang tinggal di wilayah endemis JE.

Imunisasi Tambahan

Influenza

Dapat diberikan mulai usia 6 bulan dan diulang setiap tahun.

Hepatitis A

Dapat mulai diberikan sejak usia 12 bulan, dengan dosis berikutnya sesuai interval yang direkomendasikan.

Varisela (cacar air)

Dapat diberikan mulai usia 12–18 bulan sesuai rekomendasi IDAI.

Imunisasi Anak Usia 2-18 Tahun

Jadwal dan Tahapan Imunisasi Wajib Bayi Baru Lahir

1. Tifoid

Imunisasi Tifoid diberikan untuk mencegah penyakit tipes yang disebabkan oleh bakteri salmonella typhii. Imunisasi ini diberikan setiap 3 tahun sekali pada anak usia 2 tahun.

2. HPV

Imunisasi HPV merupakan upaya mencegah infeksi virus Human Papiloma Virus yang dapat menyebabkan kanker pada area kelamin dan mulut. Imunisasi ini dapat diberikan 2 kali pada usia 9-14 tahun, dengan jeda 6-12 bulan. 

HPV sudah termasuk program imunisasi nasional dan diberikan melalui program BIAS kepada anak perempuan di sekolah dasar.

3. Dengue

Vaksin dengue kini tersedia dalam beberapa jenis dengan rekomendasi yang berbeda-beda. Batas usia, jumlah dosis, dan perlu tidaknya pemeriksaan status infeksi sebelumnya bergantung pada jenis vaksin yang dipakai.

Rekomendasinya masih berkembang. Tanyakan langsung ke dokter anak jenis vaksin dengue yang tersedia dan apakah sesuai untuk Si Kecil, dan jangan memakai batas usia dari vaksin generasi sebelumnya sebagai patokan.

Sumber

Bagikan artikel ini

Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Konsultasikan kondisi Mama dengan bidan atau dokter.

Baca juga