5 Bahaya Paraben yang Tidak Disadari
Bahaya paraben sering menjadi pertimbangan saat memilih produk perawatan tubuh dan kosmetik. Sebagian klaim sudah terbukti, sebagian lagi belum.

Bahaya paraben tentu menjadi salah satu pertimbangan kita untuk memilih produk perawatan tubuh dan kosmetik. Meskipun fungsi paraben adalah sebagai bahan pengawet yang mencegah pertumbuhan jamur dan bakteri, namun hingga detik ini, tidak ada satupun penelitian yang membuktikan bahwa paraben memiliki efek positif bagi kesehatan tubuh.
Kadar paraben dalam satu produk memang sangat sedikit. Paraben yang terserap umumnya dipecah dan dikeluarkan tubuh melalui urine, dan sampai sekarang belum ada bukti bahwa kadar yang dipakai di kosmetik menumpuk sampai tingkat yang membahayakan. Beberapa hal berikut menjadi perhatian para peneliti, dan penting dibaca dengan konteksnya:
1. Gangguan hormon

Paraben bersifat estrogenik, artinya ia bisa meniru sebagian cara kerja estrogen, meski jauh lebih lemah daripada estrogen tubuh sendiri. Paraben tidak berubah menjadi hormon. Karena sifat inilah para peneliti mengkaji kemungkinan pengaruhnya pada sistem hormon. Hasilnya sejauh ini belum konklusif.
Sebagian penelitian pada sel di laboratorium atau pada hewan mengaitkan gangguan hormon dengan beragam penyakit. Kaitan itu belum terbukti terjadi pada manusia di kadar pemakaian kosmetik biasa, jadi tidak tepat bila disajikan sebagai sebab-akibat.
Bagi ibu hamil, wajar bila muncul kekhawatiran soal pengaruh hormon pada janin. Meski begitu, klaim spesifik bahwa paraben dari kosmetik memicu kelainan bawaan tidak didukung konsensus medis mana pun, dan sampai kini belum ada bukti kuat bahwa paraben dari produk kosmetik mengganggu kehamilan atau tumbuh kembang bayi.
2. Gangguan sistem reproduksi dan infertilitas

Karena sifat estrogeniknya, paraben juga diteliti kemungkinan kaitannya dengan sistem reproduksi, termasuk keseimbangan hormon seperti estrogen dan testosteron. Sejauh ini kaitan dengan gangguan reproduksi atau kesuburan pada manusia belum terbukti pada kadar pemakaian kosmetik biasa.
3. Kanker kulit, apa buktinya?

Tidak ada landasan ilmiah untuk menyebut paraben sebagai penyebab kanker kulit. Belum ada penelitian yang menunjukkan kaitan sebab-akibat seperti itu.
Yang memang bisa terjadi pada sebagian orang adalah iritasi atau reaksi alergi di kulit, dan hal itu dibahas di bagian berikutnya. Di luar itu, klaim bahwa paraben memicu penuaan dini atau melanoma tidak didukung bukti yang memadai.
4. Alergi kulit

Ini adalah satu-satunya efek negatif yang bisa dirasakan langsung dari penggunaan paraben. Pada beberapa kulit yang sensitif terhadap paraben, biasanya akan muncul reaksi alergi atau iritasi yang berkelanjutan. Gejala bisa ditunjukkan dengan bintik-bintik merah, ruam, gatal, bahkan bersisik.
5. Kanker payudara, sejauh mana kaitannya?

Dilansir dari WebMD, sebagian penelitian, termasuk dari Silent Spring Institute, meneliti kemungkinan paraben merangsang pertumbuhan sel tumor payudara karena kemiripannya dengan estrogen. Perlu dibaca hati-hati: terdeteksinya paraben di jaringan payudara tidak membuktikan paraben menjadi penyebab kanker. FDA dan National Cancer Institute menyatakan bukti kaitan sebab-akibat pada manusia masih terbatas dan belum konklusif. Sebagian besar temuan itu berasal dari studi sel di laboratorium atau pada hewan.
Karena itu wajar bila Mama ingin lebih teliti pada komposisi dari setiap produk yang Mama gunakan. Pilih produk-produk yang tidak menggunakan paraben atau memiliki klaim “paraben-free”. Terutama pada kosmetik, ya, Ma. Coba deh, baca seberapa bahayanya penggunaan paraben dalam kosmetik**bahaya paraben dalam kosmetik**
Alternatifnya, Mama bisa menggunakan produk-produk yang natural dan aman. Mama’s Choice adalah salah satu solusi untuk mendapatkan produk yang sehat, aman, berkualitas dan terpercaya.
Jika Mama ingin mencari informasi lebih lanjut seputar menjaga kesehatan saat hamil dan menyusui, yuk, Sign upsekarang dan dapatkan hadiah menarik untuk 1000 pendaftar pertama!
Apa yang Sebenarnya Diketahui tentang Paraben
Bagian ini perlu diluruskan, karena beberapa klaim yang beredar jauh melampaui buktinya.
Soal kanker payudara. Konsensus saat ini, termasuk FDA dan SCCS Uni Eropa, menyatakan bukti hubungan antara paraben dan kanker payudara pada manusia masih terbatas dan tidak konklusif. Temuan pada sel di laboratorium atau pada hewan tidak boleh disajikan sebagai fakta klinis pada manusia.
Soal kanker kulit. Tidak ada landasan ilmiah untuk menyebut paraben sebagai penyebab kanker kulit.
Soal mekanismenya. Paraben tidak "berubah menjadi hormon". Paraben bertindak sebagai endocrine disruptor, meniru atau mengganggu sinyal hormon secara lemah, jauh lebih lemah daripada estrogen tubuh sendiri.
Soal janin. Klaim spesifik mengenai "kelainan bawaan seperti gender bias, lemah jantung, hingga berat badan tidak normal" akibat paraben tidak didukung konsensus medis mana pun, dan berpotensi menimbulkan kecemasan berlebih pada ibu hamil.
Jadi kenapa banyak produk memilih tanpa paraben? Karena sebagian orang lebih tenang mengurangi paparan yang memang bisa dihindari, dan itu alasan yang sah. Yang tidak sah adalah menakut-nakuti untuk menjualnya.
Perlu diingat juga: pengawet itu diperlukan. Produk berbahan air tanpa pengawet bisa ditumbuhi bakteri dan jamur dalam hitungan hari. Yang bisa dipilih adalah jenis pengawetnya.
Sumber
Bagikan artikel ini
Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Konsultasikan kondisi Mama dengan bidan atau dokter.