Lewati ke konten

Beli di Shopee dan TikTok Shop resmi kami, atau di stockist di seluruh Indonesia

Mama's Choice

Kata Pakar Tentang New Mom di Era Pandemi

Menjadi new mom di era pandemi bukan perkara mudah. Tapi tenang Mama, tiap tantangan disertai dengan solusi, seperti yang jabarkan berikut ini.

Ditulis oleh Tim Mama's ChoiceArtikel ini belum ditinjau oleh tenaga kesehatan.Terbit Diperbarui 4 menit baca
Kata Pakar Tentang New Mom di Era Pandemi

Catatan arsip. Artikel ini merekam pengalaman pribadi seorang Mama pada masa pandemi COVID-19 (2020). Konteks pandeminya sudah tidak berlaku; yang tetap relevan adalah pengalaman emosional menjadi ibu baru.

New mom di era pandemi, sebelum saya bahas tentang ini, mau cerita dulu ketika jadi new mom hampir 6 tahun lalu, saya sempat mengalami baby blues syndrome, kondisi emosional yang umum terjadi setelah melahirkan dan biasanya bersifat sementara, mudah menangis, tersinggung, dan merasa tertekan. Kondisi ini perlu dibedakan dari depresi pascapersalinan, yang lebih menetap dan membutuhkan penanganan profesional. Nggak cuma itu, Mama, saya juga bicara dengan orang rumah, dalam hal ini, waktu itu saya masih tinggal sama orangtua. Bahasannya sama seperti yang saya kemukakan ke suami.

Kata Pakar Tentang New Mom di Era Pandemi

Poinnya, saya butuh dibantu, entah itu yang berkaitan langsung dengan anak dan urusan menyusui. Apa hasilnya? tanpa ragu papa saya membantu memasak makanan setiap hari, menyediakan asupan nutrisi untuk saya yang sedang lapar melulu, karena menyusui, hahaha.

Baca juga: 5 Langkah Pijat Oksitosin yang Bisa Bikin ASI Lebih Lancar!

Saya dengan predikat ibu baru dalam keadaan normal saja, sudah penuh tantangan seperti yang saya kisahkan di atas, Ma. Apalagi Mama yang baru-baru ini, atau menjelang menjadi ibu, di era pandemi. Ada beberapa penyesuaian yang harus dilakukan dengan usaha lebih besar lagi.

Hal ini senada dengan apa yang dikatakan I****rma Gustiana Andriani, M.Psi, Psi (Psikolog Anak & Keluarga dan Founder @ruangtumbuh.id),

“Mama baru sangat membutuhkan dukungan mental dari orang-orang terdekat, namun di masa pandemi ini lebih sulit bagi Mama untuk bertemu langsung dengan support system seperti teman dan orangtua. Kecemasan selama kehamilan dapat berdampak pada kesehatan Mama dan dikaitkan dengan beberapa luaran kehamilan. Tetapi klaim bahwa janin dapat merasakan “tekanan otot” Mama atau bahwa kontak mata Mama menjadi berbeda tidak didukung bukti yang memadai.”

Lalu apa langkah konkret yang bisa Mama lakukan, agar bisa maksimal menjalankan peran sebagai ibu?

Intinya Mama terlebih dahulu punya pola pikir, kesehatan mental adalah yang utama:

1. Menyadari bahwa Mama harus menjaga kesehatan diri sendiri terlebih dahulu sebelum menjaga atau menolong anak.

Makanya Ma, prinsip saya menjalankan dunia parenting adalah

“Put your own oxygen mask on first so you have enough air to breathe and energy for yourself before you can assist and give to others.” –NN .

Mirip seperti konsep menolong orang lain/anak di dalam pesawat jika terjadi guncangan hebat dan harus memberikan masker oksigen ke seseorang yang membutuhkan.

2. Memberikan afirmasi pada diri sendiri

“Saya harus sehat dan bahagia untuk anak/bayi/janin saya, karena saya juga ingin ia bahagia. Dengan begitu saya juga dapat lebih mudah dalam merawatnya/memberikan ASI untuknya.”

3. Memiliki mindset bahwa Mama dapat menjadi ibu terbaik di kondisi saat ini

Meski begitu, Mama tidak perlu melakukan semua hal secara “sempurna”. Gagal adalah hal wajar, yang terpenting Mama ingin terus berusaha menjadi lebih baik.

4. Menerima dan tidak melawan rasa sedih

Menerima bahwa keadaan saat ini memanglah keadaan yang sulit dan tidak nyaman. Karena, saat bisa menerimanya, Mama dapat menemukan jalan keluar dari permasalahan Mama, yaitu apakah dengan meminta bantuan suami atau menghubungi orangtua via online untuk meminta saran dan tetap terhubung secara emosional, karena hal inilah yang paling dibutuhkan olehnew mom.

5. Saat anak sedang tidur, usahakan Mama juga ikut istirahat

Misalnya melakukan meditasi, yoga, dan mindful breathing. Hindari melakukan hal-hal yang membuat Mama lelah dan hindari memikirkan hal-hal yang berada di luar kekuasaan Mama. Fokus pada apa yang Mama bisa kendalikan, ya 🙂

Baca juga: “Nggak apa-apa, Ma, ngerasa lelah. Jangan lupa istirahat, ya!”

–

Sangat lumrah setelah hands on sama anak, badan Mama merasa pegal-pegal. Kalau sudah begini enaknya minta pijat sama suami, ya, Ma? Manfaatkan momen di nomor 5 tersebut Mama. Cari media yang bisa melemaskan otot-otot Mama.

Mama’s Choice sebagai penyedia aneka kebutuhan produk untuk ibu hamil dan menyusui yang Aman, Halal dan Natural sangat mengerti. Mama butuh sesuatu yang bisa meredakan pegal linu setelah lelah mengurus si kecil, dengan aman dan nyaman.

Ini peran dari Grapeseed Oil, selain aromanya nyaman di hidung, Grapeseed Oil juga melembapkan kulit tanpa menyumbat pori-pori.

–

Kami keluarga besar Mama’s Choice mengirim pelukan virtual sambil diiringi doa, untuk semua Mama yang baru saja diberi amanah menjadi ibu, mampu menjalankannya dengan kesehatan fisik dan psikis yang maksimal 🙂

Baby Blues dan Depresi Pascapersalinan Tidak Sama

Baby blues sangat umum, perasaan mudah menangis, sensitif, dan cemas yang muncul beberapa hari setelah melahirkan dan biasanya mereda sendiri dalam dua minggu.

Depresi pascapersalinan lebih menetap, lebih berat, dan tidak hilang sendiri. Ia dapat muncul kapan saja dalam tahun pertama.

Cari bantuan tenaga kesehatan bila perasaan sedih, hampa, atau cemas berlangsung lebih dari dua minggu, mengganggu tidur dan kemampuan merawat diri atau Si Kecil, atau bila muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri maupun bayi, yang terakhir perlu pertolongan hari itu juga.

Minyak, aromaterapi, atau pijat dapat membantu kenyamanan sesaat, tetapi bukan pengobatan untuk kecemasan atau depresi yang menetap.

Sumber

Bagikan artikel ini

Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Konsultasikan kondisi Mama dengan bidan atau dokter.

Baca juga

Tanya kami