Lewati ke konten

Beli di Shopee dan TikTok Shop resmi kami, atau di stockist di seluruh Indonesia

Mama's Choice

Waspadai Bahaya Epulis Gravidarum: Gusi Bengkak Saat Hamil

Epulis gravidarum atau gusi bengkak adalah kondisi yang sering terjadi pada ibu saat hamil. Awas mengganggu janin, yuk cegah dengan cara ini!

Ditulis oleh Tim Mama's ChoiceArtikel ini belum ditinjau oleh tenaga kesehatan.Terbit Diperbarui 4 menit baca
Ibu hamil beraktivitas di rumah pada siang hari

Bagi para Mama yang sedang hamil, jangan abaikan perawatan mulut ya. Saat hamil gigi dan gusi ibu jadi lebih rentan mengalami masalah, salah satunya adalah epulis gravidarumatau gusi bengkak. Yuk simak lebih lanjut mengenai *epulis gravidarum,*serta cara mencegah dan mengatasi nya di sini!

“Sejak masuk semester dua, kok gusi terasa bengkak ya. Rasanya tidak nyaman setiap makan dan berbicara. Bagaimana cara mengatasinya?”

Epulis gravidarum ditandai dengan benjolan merah di gusi, biasanya di sela antar-gigi, yang mudah berdarah saat disikat atau makan. Umumnya tidak nyeri, tetapi mengganggu saat makan dan bicara. Kondisi ini muncul pada sekitar 5% kehamilan, paling sering pada trimester kedua dan ketiga.

Perlu dibedakan sejak awal: tidak semua gusi bengkak saat hamil adalah epulis. Yang jauh lebih sering adalah pregnancy gingivitis, gusi memerah dan membengkak merata di sepanjang garis gusi, bukan benjolan tunggal. Penyebab lain yang mungkin: abses gigi, gigi bungsu yang tumbuh, atau trauma. Karena penanganannya berbeda, benjolan di gusi sebaiknya dilihat langsung oleh dokter gigi.

Epulis gravidarum juga dikenal sebagai pregnancy tumor. Jangan panik dengan istilah tumor ya Ma, sebab pregnancy tumor ini bukan kanker dan tidak menular.

Penyebab Epulis Gravidarum Saat Hamil

epulis gradivarum adalah gusi bengkak saat hamil

Kehamilan membuat hormon dalam tubuh Mama berubah drastis untuk mempersiapkan kehidupan baru di dalam perut. Banyak jaringan mengalami perubahan karena plasenta menghasilkan estrogen dan progesteron yang lebih tinggi.

Akibatnya, jaringan gusi bereaksi lebih kuat terhadap plak yang sudah ada. Hormon tidak menyebabkan epulis dengan sendirinya, plak tetap pemicu utamanya, dan hormon membuat responsnya berlebihan. Gusi bengkak bisa semakin parah apabila sejak sebelum ibu hamil gigi dan gusi sudah dipenuhi dengan plak.

Penyakit gusi selama kehamilan dikaitkan dengan kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah dalam beberapa penelitian. Perlu dibaca hati-hati: ini hubungan yang diamati, bukan sebab-akibat yang terbukti, dan penelitian yang mengobati penyakit gusi selama kehamilan belum menunjukkan penurunan angka kelahiran prematur. Menjaga kesehatan gusi tetap penting, untuk kenyamanan dan kesehatan mulut Mama sendiri, tanpa perlu ditakut-takuti.

Di samping hormon, ada beberapa faktor pendukung yang bisa memperparah kondisi kesehatan mulut Mama selama hamil.

  • Mengonsumsi makanan karbohidrat tinggi (nasi, roti, camilan manis) dan tidak menyikat gigi setelahnya.

  • Morning sickness meningkatkan lingkungan asam di mulut, terlebih kalau Mama tidak rajin menyikat gigi.

  • Produksi air liur menurun sehingga pembentukan karies meningkat.

Baca juga: Sakit Gigi Saat Hamil Bikin Kelahiran Prematur? Cek Faktanya di sini!

Cara Mengatasi Gusi Bengkak Saat Hamil

bolehkah ibu hamil ke dokter gigi

Meskipun epulis gravidarum wajar dialami Ibu hamil, tapi Mama bisa mencegahnya dengan langkah-langkah berikut ini:

  • Batasi makanan manis, pilih makanan sehat yang bernutrisi.

  • Rutin ke dokter gigi untuk kontrol kebersihan gigi dan gusi.

  • Sikat gigi dua kali sehari, terutama setelah makan.

  • Bersihkan sela gigi dengan benang gigi atau sikat interdental, ini yang menjangkau tempat plak menumpuk, bukan obat kumur. Obat kumur bersifat pelengkap dan tidak menggantikan menyikat dan flossing.

  • Periksakan ke dokter gigi bila benjolan membesar, mudah berdarah, atau mengganggu makan. Pembersihan karang gigi aman dilakukan saat hamil, dan sering sudah cukup memperbaiki kondisinya.

Jika terlanjur terjadi, epulis gravidarum dapat membuat gusi rentan berdarah. Mama pun jadi enggan menggosok gigi. Namun semakin dibiarkan, kondisinya akan lebih kotor dan semakin parah. “Tetap sikat gigi menggunakan sikat gigi yang kecil. Jangan menggunakan tangan karena tangan tidak memiliki bulu,” kata Drg Ratu Mirah Afifah GCClintDent,. MDSc.

Epulis gravidarum umumnya mengecil sendiri setelah melahirkan, saat kadar hormon kembali turun. Karena itu tindakan pengangkatan biasanya ditunda sampai setelah persalinan, kecuali benjolannya sangat besar, terus berdarah, atau mengganggu makan, pada kondisi itu pengangkatan aman dilakukan saat hamil.

Segera periksakan bila benjolan berdarah terus-menerus dan sulit berhenti, tumbuh cepat, terasa nyeri hebat, atau disertai demam.

Menjaga Kesehatan Mulut dan Gigi Selama Hamil dengan Aman

epulis gravidarum adalah gusi bengkak saat hamil

Selain *epulis gravidarum,*3 masalah kesehatan mulut yang umum terjadi ketika hamil adalah:

  • Peradangan gusi (gingivitis)

  • Infeksi gusi (periodontitis)

  • Gigi berlubang.

Apabila dibiarkan, kondisi ini bisa berdampak buruk pada janin dan pada kesehatan Mama. Karenanya, saat hamil Mama perlu menjaga kebersihan mulut dan gigi dengan ekstra.

Tapi tak hanya itu, jangan lupa untuk menggunakan produk yang aman bagi Ibu hamil ya, Ma. Sebab pasta gigi dan obat kumur yang dijual di pasaran kebanyakan mengandung deterjen SLS yang dapat mengganggu kerja hormon ibu hamil dan janin.

Artikel terkait: Pasta Gigi Tanpa Deterjen SLS, Lebih Sehat untuk Keluarga Pasta gigi dan mouthwash ini terbuat dari 100% bahan alami seperti siwak, kalsium, mint, klorofil dan allantoin. Bebas deterjen SLS, triclosan, fluoride kimia, bahkan alkohol.

Bagaimana, sekarang sudah tahu penyebab epulis gravidarum saat hamil dan cara mencegahnya kan Ma? Kebersihan mulut sangat memengaruhi kesehatan kandungan, karena itu lebih baik mencegah daripada mengobati!

Baca juga: 7 Manfaat Klorofil Bagi Kesehatan Tubuh

Sumber:

ncbi.nlm.nih.gov

ncbi.nlm.nih.gov

webmd.com

www.healthychildren.org

Sumber

Bagikan artikel ini

Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Konsultasikan kondisi Mama dengan bidan atau dokter.

Baca juga

Tanya kami