Lewati ke konten

Beli di Shopee dan TikTok Shop resmi kami, atau di stockist di seluruh Indonesia

Mama's Choice

Postpartum Depression, Apa Bedanya dengan Baby Blues?

Depresi pasca melahirkan atau postpartum depression punya efek yang buruk untuk Mama serta bayi. Jika tidak ditangani lebih lanjut, bisa membahayakan.

Ditulis oleh Tim Mama's ChoiceArtikel ini belum ditinjau oleh tenaga kesehatan.Terbit Diperbarui 5 menit baca
Dua perempuan berbincang di ruang tamu sambil minum teh

Tak banyak yang tahu bahwa postpartum depressionadalah hal yang berbeda dengan *baby blues.*Ternyata postpartum depressionadalah perpanjangan lebih lanjut jika baby bluestidak ditangani dengan baik!

Postpartum depression adalah hal yang berbeda dengan baby blues

Postpartum depression adalah depresi yang memengaruhi beberapa wanita setelah mereka melahirkan. Meskipun memiliki gejala yang cukup mirip denganbaby blues, tetapi postpartum depression danbaby blues adalah dua hal yang berbeda. 

Baby blues merupakan perubahan emosi yang membuat seorang wanita sering menangis, cemas, dan sulit tidur setelah memiliki bayi. Biasanya ini terjadi dalam dua hingga tiga hari pertama setelah melahirkan dan terus berlangsung hingga dua minggu. 

**Jika gejala baby blues terjadi lebih dari dua minggu dan tidak berangsur pulih, maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai gejala postpartum depression. Dengan kata lain, postpartum depression hadir dalam bentuk depresi yang lebih berat, dan jika tidak langsung ditangani bisa membahayakan kondisi Mama dan bayi.

Bagaimana postpartum depression bisa terjadi?

Postpartum depression merupakan bentuk depresi berat yang biasanya muncul dalam jangka waktu empat minggu setelah melahirkan. Diagnosis postpartum depression tidak hanya didasarkan pada waktu terjadinya tetapi juga pada tingkat keparahan depresinya.  Penyebab postpartum depression disebabkan karena adanya perubahan kimia, sosial, dan psikologis yang terjadi pada wanita setelah melahirkan. Istilah ini menggambarkan serangkaian perubahan fisik dan emosional yang kerap dialami oleh ibu baru.  Kadar estrogen dan progesteron memang naik tinggi selama kehamilan lalu turun tajam setelah melahirkan, dan perubahan itu berperan pada suasana hati. Tetapi depresi pascapersalinan tidak dapat dijelaskan oleh hormon saja, dan tidak mengikuti jadwal tetap. Banyak faktor ikut berperan: kurang tidur, nyeri dan pemulihan fisik, riwayat depresi atau kecemasan sebelumnya, dukungan yang minim, tekanan ekonomi, kesulitan menyusui, dan pengalaman persalinan yang berat. Itu sebabnya ia bisa muncul kapan saja dalam tahun pertama, bukan hanya di hari-hari awal.  Selain itu, berbagai perubahan fisik dan kebiasaan setelah melahirkan juga kerap membuat para wanita merasa cemas dan kelelahan. Ini dapat memengaruhi wanita hingga memicu depresi.  Mama termasuk yang pernah mengalaminya? Atau justru takut dengan terjadinya hal ini pada diri Mama? Kenali gejala dan cara mengatasi depresi setelah melahirkan dengan baca artikel ini sampai habis.

Mengenal gejala postpartum depression

Gejala postpartum depression pada setiap wanita sangat bervariasi, dari yang ringan hingga parah. Gejala depresi juga umumnya bisa dipengaruhi oleh faktor lingkungan sekitar, misalnya tidak adanya wujud dukungan dari orang-orang terdekat saat Mama merawat bayi. Secara umum, gejala postpartum depression antara lain dapat terlihat dengan ciri-ciri berikut:

  • Selalu merasa tertekan

  • Perubahan suasana hati yang parah

  • Menangis berlebihan

  • Kesulitan membangun ikatan dengan bayi

  • Tidak ingin berkomunikasi dengan keluarga dan teman

  • Kehilangan nafsu makan atau makan jauh lebih banyak dari biasanya

  • Ketidakmampuan tidur (insomnia) atau tidur sering tidur

  • Kelelahan luar biasa atau kehilangan energi

  • Berkurangnya minat dan kesenangan dalam aktivitas yang biasa disenangi

  • Mudah marah

  • Ketakutan bukan ibu yang baik

  • Keputusasaan

  • Perasaan tidak berharga, malu, bersalah atau tidak mampu

  • Berkurangnya kemampuan untuk berpikir jernih, berkonsentrasi, atau mengambil keputusan

  • Selalu merasa gelisah

  • Kecemasan hebat dan serangan panik

  • Memiliki pikiran melukai diri sendiri atau bayi

  • Memiliki pikiran berulang tentang kematian atau bunuh diri

Postpartum depression dapat diatasi dengan pengobatan dan konseling. Bila tidak segera diobati postpartum depression bisa berlangsung selama berbulan-bulan atau lebih lama dari itu 🙁

Bagaimana cara mengatasi postpartum depression?

Cara paling efektif untuk mengatasi postpartum depression adalah dengan mengunjungi dokter atau psikiater. Dengan begitu, mereka dapat mengevaluasi gejala dan menyusun rencana pengobatan yang terbaik. Sebelum memutuskan untuk mengambil tindakan medis, Mama juga perlu mencari bantuan dari orang-orang terdekat seperti suami, ibu, atau saudara dan sahabat untuk mendampingi Mama. Setidaknya, mereka akan menjadi tempat Mama untuk bercerita. Selain itu, Mama juga bisa melakukan hal-hal di bawah ini untuk mencegah terjadinya postpartum depression yang berkelanjutan.

1. Cukupi kebutuhan dan informasi sebelum melahirkan

Jangan ragu untuk mengikuti kelas prenatal dan banyak membaca referensi seputar parenting dan persalinan. Percayalah bahwa tidak ada ilmu yang sia-sia, dan Mama harus yakin bahwa apa adanya Mama, tetap menjadi luar biasa untuk kehadiran si kecil kelak. Tentunya, suami dan seluruh keluarga pun turut bangga dengan Mama! 🙂

2. Libatkan Papa dalam setiap langkah menjadi orang tua

Keterlibatan pasangan dalam setiap langkah kita menjelang jadi orang tua, juga sangat berpengaruh lho, Ma. Mulai dari mengantar kontrol kehamilan ke dokter, membuatkan susu hangat setiap malam, berbincang-bincang hangat sebelum tidur, atau sekedar memijat punggung untuk meredakan nyeri selama hamil tua. Sederhana, tapi efeknya luar biasa!

3. Biasakan untuk bercerita, jangan dipendam

Tentu Mama memiliki sosok yang Mama jadikan panutan, atau orang kepercayaan untuk dimintai saran. Suami, sahabat, dan ibu adalah orang terdekat yang kemungkinan besar mengisi posisi ini. Biasakan menceritakan segala keluh kesah dan ketakutan yang Mama hadapi. Memendamnya sendiri justru membuat pikiran semakin kacau. Bicaralah. Jika postpartum depression sudah terlanjur parah, baiknya jangan ragu untuk menceritakan ketakutan dan kekhawatiran Mama kepada dokter atau psikiater, ya.

4. Me time dan lepaskan stres

Terdengar sepele, tapi penting! Mama bisa melakukan hobi atau aktivitas lain yang membuat Mama bahagia. Tak perlu khawatir, tidak ada ibu yang sempurna. Mama pun juga berhak untuk melakukan me time agar stres tidak semakin kalut dalam diri Mama. Tubuh pun perlu rileks.

Produk minyak pijat alami yang aman untuk ibu hamil dan menyusui ini efektif untuk meningkatkan mood dan kualitas tidur melalui pijat dan aromaterapi.

Kandungannya 100% natural, terbuat dari bahan-bahan alami seperti lavender oil, grapefruit oildan *orange oil.*Pasti terbayang kan, aromanya yang lembut serta segar?

Dengan harga saja, Mama bisa mendapatkan minyak pijat yang sekaligus bisa difungsikan sebagai aromaterapi. Sudah teruji keamanannya, sudah pasti kehalalannya, dan sudah terjamin kualitas bahan alaminya!

5. Gaya hidup sehat

Penelitian di Australia menjelaskan bahwa olahraga juga memiliki efek anti-depresan untuk wanita dengan postpartum depression. Salah satu contohnya, bahkan Mama bisa melakukan olahraga dengan mendorong bayi dalam strollersetiap pagi.

Selain itu, Mama juga perlu memperhatikan pola makan yang sehat serta istirahat yang cukup. Minum air putih minimal 2 liter per hari, serta tidur yang cukup minimal 7-8 jam setiap harinya juga wajib Mama lakukan. Hal ini dapat menyeimbangkan kembali stabilitas hormon di dalam tubuh.

Referensi: Mayo Clinic, WebMD, Healthline, Medical News Today

Perawatan Diri Bukan Pengobatan

Istirahat, dukungan keluarga, aktivitas yang menyenangkan, dan aromaterapi dapat membantu Mama merasa lebih nyaman. Tetapi untuk depresi pascapersalinan, itu bukan penanganan yang memadai.

Depresi pascapersalinan dapat ditangani, dengan konseling, terapi psikologis, dan bila perlu obat yang aman untuk ibu menyusui. Semakin cepat ditangani, semakin cepat pula pemulihannya.

Cari bantuan hari itu juga bila muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau Si Kecil, atau bila Mama merasa tidak sanggup lagi menjalani hari.

Bagikan artikel ini

Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Konsultasikan kondisi Mama dengan bidan atau dokter.

Baca juga

Tanya kami