Bolehkah Ibu Menyusui Minum Alkohol? Ini Penjelasannya, Ma
Ada yang bilang minum alkohol dapat memperlancar ASI. Namun, apa benar ibu menyusui boleh minum alkohol? Simak penjelasannya berikut ini, Ma!

Ada yang bilang minum alkohol dapat memperlancar ASI. Namun, apa benar ibu menyusui boleh minum alkohol? Simak penjelasannya berikut ini, Ma!
Dampak minuman alkohol pada ASI
Sebenarnya, menghindari minuman beralkohol adalah pilihan yang aman selama masa menyusui, Ma. Meskipun begitu, pertanyaan mengenai boleh atau tidaknya ibu menyusui minum alkohol masih menjadi perdebatan.
Seperti dikutip dari Mayo Clinic, konsentrasi alkohol yang masuk ke dalam ASI akan sama dengan yang ditemukan dalam darah, Ma. Akibatnya, bayi bisa saja terpapar alkohol yang Mama minum. Oleh karena itu, American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan ibu menyusui untuk menghindari minuman beralkohol.
Seperti dikutip dari situs CDC, kadar alkohol dalam ASI akan memuncak dalam 30 sampai 60 menit setelah dikonsumsi. Umumnya, kadar alkohol tersebut dapat terdeteksi dalam ASI selama 2 hingga 3 jam setelah mengonsumsinya.
Semakin banyak jumlah alkohol yang Mama minum, maka akan semakin lama juga kadar alkohol yang terkandung dalam ASI. Perlu diingat juga bahwa memerah ASI tidak membuat kadar alkohol di dalamnya berkurang, Ma.
Efek minuman beralkohol pada Si Kecil
Sebuah penelitian yang dimuat dalam Mayo Clinic menunjukkan bahwa ibu menyusui yang minum alkohol lebih dari satu gelas sehari dapat membuat bayinya mengalami gangguan perkembangan motorik. Selain itu, bayi yang terpapar alkohol juga dapat mengalami perubahan pola tidur dan keterlambatan dalam tumbuh kembangnya.
Meskipun bayi hanya terpapar sebagian kecil dari alkohol yang diminum oleh Mama, tetapi bayi baru lahir akan lebih lambat menghilangkan alkohol dari tubuhnya. Beberapa organ tubuh bayi, terutama sistem pencernaannya belum berkembang dengan sempurna.
Dampak minum alkohol pada ibu menyusui
Bukan hanya pada Si Kecil, mengonsumsi minuman beralkohol juga dapat memberikan efek bagi Mama. Sebuah penelitian yang dimuat di Mayo Clinic menunjukkan bahwa alkohol dapat menyebabkan produksi dan kualitas ASI menurun.
Selain itu, minum alkohol juga dapat membuat Mama mabuk. Kondisi ini dapat membuat Mama tidak fokus saat merawat bayi. Tidur di dekat bayi dalam kondisi mabuk juga dapat meningkatkan risiko terjadinya cedera, bahkan kematian mendadak pada bayi (SIDS).
Ibu menyusui tidak boleh minum alkohol

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ibu menyusui tidak boleh minum alkohol. Mama yang sedang menyusui juga disarankan untuk menghindari rokok dan minuman mengandung kafein. Sebaliknya, perbanyak konsumsi makanan bergizi dan penuhi kebutuhan cairan tubuh saat masa menyusui agar Si Kecil mendapatkan asupan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya.
Artikel terkait: Jumlah Dosis Kafein untuk Ibu Hamil dan Menyusui
Nah, agar pemberian ASI eksklusif berjalan lancar hingga Si Kecil berusia dua tahun, Mama juga perlu melengkapi kebutuhan selama masa menyusui. Carilah produk yang terbuat dari bahan-bahan alami agar tidak berdampak bagi Si Kecil ya, Ma.
Seperti Mama’s Choice yang selalu hadir untuk menyediakan kebutuhan Mama selama masa hamil, melahirkan, dan menyusui. Mulai dari produk menyamarkan *stretch mark,*perawatan payudara, ASI booster, hingga minyak bayi untuk mencegah kolik. Semuanya tersedia di Mama’s Choice.
Rangkaian produk perawatan dari Mama’s Choice 100% ini aman dan halal untuk Mama dan Si Kecil. Jadi, Mama tidak usah khawatir lagi, karena Mama’s Choice membantu #KurangiWorry Mama dalam perjalanan menjadi seorang ibu.
Semoga informasi ini bermanfaat ya, Ma. Yuk, hindari minum alkohol selama masa menyusui agar dapat memberikan nutrisi terbaik bagi Si Kecil.
Tetap semangat untuk mengASIhi Si Kecil, Ma!
Baca juga: 12 Pantangan Ibu Hamil, Begini Fakta dan Alasannya!
Berapa Lama Alkohol Bertahan di ASI
Ini pertanyaan yang paling menentukan, dan jawabannya lebih sederhana daripada yang banyak dikira.
Kadar alkohol dalam ASI mengikuti kadar dalam darah. Ketika alkohol keluar dari darah, ia juga keluar dari ASI, jadi tidak ada yang menumpuk di payudara.
Sebagai gambaran umum, satu gelas standar memerlukan sekitar dua sampai tiga jam untuk hilang dari darah orang dewasa. Dua gelas memerlukan sekitar empat sampai enam jam. Angka ini dipengaruhi berat badan, apakah diminum bersama makanan, dan kecepatan metabolisme masing-masing.
Karena itu, cara paling aman adalah mengatur waktunya: menyusui lebih dulu, lalu minum, lalu memberi jarak.
Yang Tidak Membantu
Memerah dan membuang ASI tidak mempercepat apa pun. Kadar alkohol turun seiring waktu, bukan seiring pengosongan payudara. Memerah hanya berguna untuk kenyamanan bila payudara penuh, atau untuk menjaga produksi.
Kopi, mandi, atau minum banyak air juga tidak mempercepat pengeluaran alkohol dari tubuh.
Tes strip alkohol untuk ASI yang dijual bebas tidak selalu akurat dan sering membuat Mama merasa aman lebih cepat daripada seharusnya.
Satu-satunya yang bekerja adalah waktu.
Bila Memang Ingin Minum Sesekali
Bagi sebagian besar panduan kesehatan, menghindari alkohol sepenuhnya adalah pilihan paling aman selama menyusui. Bila Mama memilih untuk minum sesekali, hal-hal ini menurunkan risikonya:
- Susui bayi lebih dulu, lalu minum
- Batasi satu gelas standar, dan minum bersama makanan
- Beri jarak dua sampai tiga jam per gelas sebelum menyusui lagi
- Siapkan ASI perah dari sebelumnya bila memperkirakan bayi akan lapar
- Hindari sepenuhnya pada bayi di bawah tiga bulan, yang memetabolisme alkohol jauh lebih lambat
Yang Tidak Boleh Ditawar
Jangan tidur seranjang dengan bayi setelah minum alkohol. Soalnya kewaspadaan, dan ASI tidak ada hubungannya: alkohol menurunkan kemampuan merespons, dan kombinasi ini berkaitan dengan risiko kematian bayi mendadak.
Jangan menggendong atau merawat bayi sendirian bila merasa mengantuk atau tidak sepenuhnya sadar. Pastikan ada orang dewasa lain yang sepenuhnya siaga.
Dan bila Mama merasa sulit membatasi jumlahnya, atau minum menjadi cara mengatasi kelelahan dan kecemasan, itu layak dibicarakan dengan tenaga kesehatan, tanpa penghakiman, dan lebih awal lebih baik.
Sumber:
Bagikan artikel ini
Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Konsultasikan kondisi Mama dengan bidan atau dokter.


