Tak Cuma Bumil, Ibu Menyusui Juga Tidak Boleh Stres
Untuk ibu menyusui, kami mendengar Anda. Stres saat menyusui bisa memengaruhi suasana hati dan pengeluaran ASI, dan ada cara lembut untuk melewatinya.

Untuk ibu menyusui, kami mendengar Anda. Momen penuh kebahagiaan ini seringkali diikuti dengan rasa lelah, kurang tidur, hingga pembawaan diri yang jadi lebih mudah marah. Stres saat menyusui bisa memengaruhi suasana hati Mama dan membuat ASI terasa lebih sulit keluar untuk sementara. Mari pahami apa yang sebenarnya terjadi, tanpa menambah rasa cemas.
Dua hal yang terjadi jika ibu menyusui mengalami stres berlebihan
-
Suplai ASI bisa ikut berkurang bila stres berlangsung lama. Saat stres, hormon kortisol, adrenalin dan norepinefrin meningkat dan dapat mengganggu kelancaran produksi ASI.
-
Aliran ASI bisa terasa lebih lambat keluar. Stres akut dapat menghambat refleks let-down untuk sementara, itu soal pengeluaran ASI saat itu, bukan soal kandungan gizinya. Komposisi ASI tetap terjaga, dan stres tidak membuat ASI Mama "kurang bergizi".
Hormon kortisol adalah hormon yang dihasilkan dari kondisi stres. Hormon ini pada dasarnya dibutuhkan untuk menyeimbangkan kadar air dan garam dalam tubuh, namun dalam jumlah yang sedikit. Sayangnya, kortisol dapat menghambat kinerja hormon prolaktin dan oksitosin; dua hormon yang berpengaruh besar untuk produksi ASI.
Sebagian penelitian mengaitkan stres pengasuh dengan bayi yang lebih rewel, tetapi kaitan ini bersifat kemungkinan dan dipengaruhi banyak faktor lain. Stres Mama tidak menentukan temperamen bayi, karena bayi punya temperamen yang berbeda-beda sejak lahir.
Jadi, menjaga ketenangan Mama baik untuk Mama sendiri, dan bisa membantu momen menyusui terasa lebih nyaman.
Cara mengatasi stres berlebihan selama menyusui
-
Tidur yang cukup. Hal ini dapat membuat pikiran Mama lebih jernih. Baca 5 tips agar Busui bisa memiliki kualitas tidur yang baik di artikel ini.
-
Bicara pada teman yang dipercaya. Tak ada salahnya bercerita. Setiap Mama menjalankan peran terbaiknya, lengkap dengan masing-masing keluh kesahnya.
-
Istirahat dan me-time. Saat bayi tidur, lakukan hal yang membuat Mama lebih rileks dan tenang. Gakpapa kok, Ma. Mama juga berhak melakukannya.
-
Jangan overthinking. Kebanyakan ibu menyusui khawatir berlebihan terhadap perkembangan bayinya. Apakah bayi saya normal? Benarkah ASI saya cukup untuk kebutuhan bayi saya? Bagaimana dengan semua yang saya makan dan gunakan, apakah aman untuk bayi saya? Tetaplah tenang, dan pilih yang aman.
Memilih Produk Perawatan yang Lebih Aman
Selain menjaga ketenangan, banyak Mama memilih lebih selektif dengan produk perawatan sehari-hari selama menyusui. Ini pilihan yang masuk akal untuk rasa tenang, tanpa perlu panik soal ASI.
Perlu diluruskan: stres tidak membuat ASI kehilangan gizi, dan stres Mama tidak merusak otak bayi. Memilih produk dengan bahan yang lebih aman adalah soal kenyamanan dan kehati-hatian, bukan karena ASI Mama menjadi berbahaya bagi bayi.
Busui wajib pilih yang bebas toksin
Banyak Mama berpikiran, saat hamil kita perlu waspada dengan segala hal, namun saat menyusui kita berangsur-angsur mulai menyudahinya. Padahal, saat menyusui, apa yang masuk ke dalam tubuh juga akan menjadi asupan untuk bayi melalui ASI.
Bahaya toksin mengintai Anda lewat berbagai cara. Selain lewat polusi udara, toksin bisa masuk ke dalam tubuh dengan mudahnya melalui produk perawatan sehari-hari. Paraben, phthalate, alkohol, hydroquinon, merkuri, fluoride, SLS dan triclosan adalah beberapa contoh toksin yang umumnya ditemukan.
Lihat Mama’s Choice Stretch Mark Cream di Shopee
Kini, telah tersedia pasta gigi tanpa fluoride Mama’s Choice Toothpaste dan krim untuk menyamarkan peregangan kulit Mama’s Choice Stretch Mark Cream yang akan menemani perjalanan Mama.
Pilih yang teraman untuk melengkapi rangkaian perawatan Mama. Perawatan dari Mama’s Choice dapat menjadi solusinya.
Pilih yang lebih aman untuk yang tersayang, demi ketenangan diri dan kebahagiaan keluarga tercinta.
Salam dari kami, Ma, yang selalu ada, untuk Mama. 🙂
Bagaimana Stres Memengaruhi Menyusui
Perlu dijelaskan dengan tepat, karena kekhawatiran yang keliru justru menambah stres.
Stres tidak menghentikan produksi ASI. Yang dipengaruhinya adalah refleks pengeluaran, oksitosin yang mendorong ASI keluar lebih sulit bekerja saat tubuh sedang tegang. ASI-nya ada; keluarnya yang tersendat.
Ini membedakan dua hal yang sering tertukar. Produksi ditentukan oleh seberapa sering payudara dikosongkan. Pengeluaran dipengaruhi oleh kondisi emosi saat itu.
Karena itu, stres yang berkepanjangan bisa berujung pada produksi yang menurun, lewat payudara yang tidak terkosongkan dengan baik.
Yang Membantu Saat Sedang Menyusui
Napas panjang beberapa kali sebelum mulai. Embusan yang lebih panjang menenangkan sistem saraf.
Kompres hangat pada payudara sebelum menyusu.
Pijat lembut dari pangkal payudara ke arah puting.
Kulit ke kulit dengan bayi, yang meningkatkan oksitosin pada keduanya.
Kurangi rangsang. Ruangan yang lebih tenang, lampu lebih redup, ponsel di tempat lain.
Minum air dan siapkan camilan dalam jangkauan sebelum mulai.
Bila ASI tetap sulit keluar, berhenti sebentar, tenangkan diri, lalu coba lagi. Memaksa saat sedang tegang jarang berhasil.
Sumber Stres yang Paling Sering
Kurang tidur berkepanjangan. Nyeri saat menyusui yang tidak tertangani. Kekhawatiran bahwa ASI tidak cukup. Komentar dari orang sekitar. Kembali bekerja dan mengatur stok ASI perah. Dan beban rumah tangga yang menumpuk pada satu orang.
Beberapa di antaranya bisa diselesaikan langsung: nyeri hampir selalu soal pelekatan dan bisa diperbaiki, dan kekhawatiran soal kecukupan ASI bisa dijawab dengan menimbang bayi.
Kapan Ini Lebih dari Stres Biasa
Sampaikan kepada tenaga kesehatan bila perasaan itu menetap lebih dari dua minggu, Mama sulit tidur meski bayi tidur, kehilangan minat pada hal-hal yang biasanya menyenangkan, merasa gagal terus-menerus, atau merasa jauh dari bayi.
Ada juga satu hal yang jarang dibicarakan: sebagian Mama merasakan gelombang sedih, mual, atau cemas tepat saat ASI mulai mengalir, yang mereda dalam beberapa menit. Namanya D-MER, ia bersifat hormonal, bukan tanda Mama tidak menyayangi bayinya, dan layak disampaikan ke konselor laktasi.
Dan bila muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi, cari bantuan hari itu juga.
Meminta Bantuan dengan Cara yang Berhasil
Sebagian besar stres menyusui berkurang karena beban yang dibagi. Teknik jarang jadi kuncinya.
Yang berhasil adalah permintaan yang spesifik. "Tolong bawakan air dan camilan setiap kali aku menyusui" lebih mungkin terjadi daripada "aku butuh dukungan". Begitu pula "tolong ambil giliran mengganti popok malam" dibanding "aku capek".
Untuk tamu yang datang menjenguk, tidak apa-apa menyampaikan bahwa Mama perlu ruang saat menyusui, atau meminta mereka membawakan makanan alih-alih membawa hadiah.
Dan bila ada komentar tentang jumlah ASI atau cara menyusui yang membuat Mama ragu, patokan yang lebih andal ada tiga: berat badan bayi naik, popok basah cukup, dan menyusui tidak menyakitkan.
Yang Bukan Salah Mama
Beberapa hal perlu diluruskan, karena versi yang beredar sering membuat Mama merasa bersalah tanpa alasan:
Stres tidak membuat ASI kehilangan gizi. Yang bisa terpengaruh sementara adalah let-down, refleks yang mengeluarkan ASI. Menyusui di tempat yang tenang, kompres hangat, atau menyusui sambil bersandar biasanya cukup membantu.
Stres Mama tidak membentuk sifat Si Kecil. Bayi yang sering menangis punya temperamen yang berbeda-beda sejak lahir; itu bukan hasil dari perasaan Mama saat menyusui.
Produksi ASI ditentukan oleh seberapa sering dan seberapa efektif payudara dikosongkan, bukan oleh suasana hati.
Dan bila rasa sedih, cemas, atau kosong berlangsung lebih dari dua minggu, mengganggu tidur dan nafsu makan, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau Si Kecil, itu bukan kelelahan biasa, dan bukan kelemahan. Depresi pascapersalinan umum terjadi dan bisa ditangani. Hubungi tenaga kesehatan; pengobatannya kompatibel dengan menyusui.
Bagikan artikel ini
Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Konsultasikan kondisi Mama dengan bidan atau dokter.


