Skincare Natural: Kenapa “Natural” Bukan Jaminan Aman
“Natural” tidak punya definisi resmi dan tidak berarti aman, sama seperti “kimia” tidak berarti berbahaya. Cara menilai skincare saat hamil dan menyusui.

Saat hamil, hampir semua Mama akhirnya berdiri di depan rak skincare sambil bertanya hal yang sama: mana yang aman?
Jawaban yang paling sering ditemui adalah "pilih yang natural". Sayangnya jawaban itu tidak seberguna kelihatannya, dan artikel ini menjelaskan kenapa, lalu menggantinya dengan sesuatu yang benar-benar bisa Mama pakai.
"Natural" Bukan Kategori Keamanan
Tidak ada lembaga di Indonesia maupun di sebagian besar negara lain yang mendefinisikan kata "natural" pada kosmetik. Artinya tidak ada ambang yang harus dipenuhi sebuah produk sebelum boleh memakai kata itu di kemasannya.
Yang lebih penting: asal-usul sebuah bahan tidak menentukan apakah bahan itu aman.
FDA mencatat bahwa bahan nabati dan minyak atsiri tidak otomatis aman hanya karena berasal dari tumbuhan, sebagian justru bersifat mengiritasi, menimbulkan alergi, atau beracun pada kadar tertentu. Beberapa penyebab dermatitis kontak alergi yang paling sering ditemui di klinik kulit justru bahan alami: minyak atsiri sitrus, lavender, tea tree, dan pewangi dari ekstrak tumbuhan.
Sebaliknya, banyak bahan sintetis dipakai justru karena lebih stabil, lebih murni, dan lebih bisa diprediksi daripada padanan alaminya.
Jadi pertarungan natural lawan kimia itu keliru arah. Yang menentukan adalah bahan apa, pada kadar berapa, dipakai di mana, dan seberapa sering.
"Hypoallergenic" Juga Bukan Jaminan
Ini label kedua yang sering disalahartikan sebagai jaminan.
FDA menyatakan bahwa tidak ada standar resmi untuk klaim "hypoallergenic". Tidak ada persyaratan pengujian tertentu yang harus dipenuhi produsen sebelum mencantumkannya, dan artinya bisa berbeda dari satu merek ke merek lain.
Label itu tetap ada gunanya sebagai penanda bahwa formulanya dirancang untuk menekan risiko reaksi, tapi ia bukan janji bahwa reaksi tidak akan terjadi.
Bagi Mama dengan kulit sensitif, pilih produk yang telah melalui pengujian keamanan dan perhatikan bahan yang berpotensi menyebabkan iritasi atau alergi. Produk berlabel hypoallergenic juga tidak berarti bebas dari risiko reaksi kulit.
Yang Memang Layak Dihindari Saat Hamil
Daftar ini pendek, dan itu memang seharusnya. Yang masuk ke sini adalah hal-hal dengan bukti yang jelas, bukan bahan yang sekadar terdengar menakutkan.
Krim pemutih tanpa izin edar. Ini yang paling nyata. FDA sudah berulang kali menemukan produk pemutih kulit yang mengandung merkuri, dan keracunan merkuri tidak hanya mengenai pemakainya, uapnya dan residunya di handuk atau di kulit bisa mengenai orang serumah, termasuk Si Kecil. Merkuri juga dapat melewati plasenta. Produk semacam ini hampir selalu dijual tanpa nomor BPOM. Cek nomornya di cekbpom.pom.go.id sebelum memakai apa pun yang menjanjikan hasil putih instan.
Hidrokuinon tanpa pengawasan dokter. Di Indonesia hidrokuinon hanya boleh dipakai atas resep dokter. Pemakaian jangka panjang tanpa pengawasan dapat menyebabkan okronosis, perubahan warna kulit menjadi kebiruan yang justru sulit diperbaiki.
Retinoid oral. Isotretinoin dan turunan vitamin A dosis tinggi diketahui menyebabkan cacat lahir dan tidak boleh dipakai selama kehamilan. Retinoid oles umumnya dihentikan juga selama hamil sebagai langkah kehati-hatian, meskipun penyerapannya lewat kulit kecil.
Produk tanpa daftar bahan yang lengkap. Kalau Mama tidak bisa tahu isinya, Mama tidak bisa menilainya.
Yang Tidak Perlu Dikhawatirkan Berlebihan
Sama pentingnya untuk tahu apa yang tidak menjadi masalah, supaya kekhawatiran Mama tersisa untuk hal yang benar-benar penting.
SLS dan SLES. Ini surfaktan pembersih. Pada kadar tertentu keduanya memang bisa mengiritasi kulit dan mata, dan itulah alasan sebagian merek memilih tidak memakainya, termasuk kami. Tetapi tidak ada dasar untuk mengatakan bahwa SLS merusak sistem pernapasan, pencernaan, atau saraf bayi. Itu iritasi kulit yang dibesarkan menjadi klaim keracunan, dan klaim seperti itu tidak pantas dipakai untuk menakuti Mama.
Paraben. Pengawet yang penggunaannya dibatasi kadarnya oleh BPOM dan regulator lain. Perlu diingat, produk berbahan air tanpa pengawet justru berisiko ditumbuhi bakteri dan jamur. Yang bisa dipilih adalah jenis pengawetnya, bukan ada atau tidaknya.
Kata "kimia" itu sendiri. Air adalah bahan kimia. Begitu juga setiap ekstrak tumbuhan.
Mama's Choice tetap meninggalkan sebagian bahan ini karena selama kehamilan banyak Mama lebih tenang mengurangi paparan yang memang bisa dihindari. Bahannya sendiri tidak berbahaya. Alasan lengkapnya, satu per satu, ada di Kamus Bahan.
Empat Hal yang Benar-Benar Bisa Mama Periksa
-
Nomor BPOM, dan pastikan nomornya cocok saat dicek.
-
Daftar bahan yang dicantumkan seluruhnya, bukan hanya bahan "bintang"-nya.
-
Klaim yang menyebutkan sumbernya, berapa orang yang diuji, oleh siapa, tahun berapa.
-
Uji tempel sederhana sebelum pemakaian penuh: oleskan sedikit di lengan bagian dalam, tunggu dua hari.
Kalau kulit Mama bereaksi terhadap suatu produk, hentikan pemakaiannya dan periksakan ke dokter bila reaksinya tidak mereda, terlepas dari apakah produk itu berlabel natural atau tidak.
Bagaimana Kami Menempatkan Klaim Kami Sendiri
Mama’s Choice Daily Protection Face Moisturizer diformulasikan untuk ibu hamil dan menyusui, dengan ekstrak beras dan hyaluronic acid, serta mineral sunscreen SPF PA++ yang melindungi dari UVA dan UVB.
-
Telah melalui uji dermatologis dan uji hypoallergenic, dengan catatan yang sama seperti di atas: ini menekan risiko reaksi, bukan meniadakannya.
-
Tanpa alkohol, paraben, dan phthalates. Ini pilihan formulasi, bukan pernyataan bahwa bahan tersebut berbahaya.
-
Terdaftar BPOM dan bersertifikat Halal.
Angka di balik setiap klaim produk kami, lengkap dengan jumlah responden dan tahunnya, ada di halaman Bukti.
Baca juga: Perbedaan Mineral Sunscreen dan Chemical Sunscreen
Ringkasnya
"Natural" tidak berarti aman, dan "kimia" tidak berarti berbahaya. Keduanya hanya kata di kemasan.
Yang bisa Mama andalkan adalah hal-hal yang bisa diperiksa sendiri: nomor izin edar, daftar bahan yang lengkap, klaim yang menyebut sumbernya, dan reaksi kulit Mama sendiri.
"Alami" Bukan Kategori Keamanan
Dua hal yang perlu diluruskan:
Mineral oil tingkat kosmetik tidak menyebabkan kanker atau penuaan dini. Yang berkaitan dengan kanker adalah minyak mineral industri yang tidak dimurnikan, dan itu bahan yang berbeda. Mineral oil kosmetik justru termasuk pelembap yang paling jarang menimbulkan reaksi.
Skincare alami tidak otomatis lebih aman untuk janin. Bahan alami tetap bahan kimia, dan sebagian justru dihindari saat hamil. Minyak esensial tertentu, dan retinol yang diturunkan dari sumber alami sekalipun.
Yang menentukan keamanan: bahan apa, pada kadar berapa, dengan mutu produksi seperti apa, dan dipakai bagaimana. Cek izin edar BPOM, baca daftar bahannya, dan hentikan pemakaian bila kulit bereaksi, itu berlaku sama untuk produk alami maupun yang bukan.
Sumber
Bagikan artikel ini
Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Konsultasikan kondisi Mama dengan bidan atau dokter.

