Apa Itu Clean Beauty, dan Kenapa Istilahnya Membingungkan
Clean beauty tidak punya definisi resmi, jadi setiap merek bisa memakainya sesuka hati. Cara menilai produk tanpa bergantung pada label.

Istilah clean beauty ada di mana-mana. Di rak toko, di iklan, di ulasan. Yang jarang disebutkan: istilah itu tidak punya definisi resmi.
Tidak ada lembaga di Indonesia, Amerika Serikat, maupun Uni Eropa yang menetapkan apa artinya. Artinya setiap merek boleh memakainya, dan boleh mengartikannya sesuka hati.
Tidak perlu sinis karenanya. Hanya saja, label itu sendiri tidak bisa dijadikan pegangan.
Kenapa istilahnya muncul
Kekhawatirannya nyata dan masuk akal.
Ibu hamil menyerap apa pun yang dioleskan ke kulit dalam jumlah kecil, dan sebagian bahan memang sebaiknya dihindari selama kehamilan. Bayi punya kulit yang jauh lebih tipis dan permukaan tubuh yang lebih luas dibanding berat badannya. Kehati-hatian di masa ini wajar.
Yang terjadi kemudian: pemasaran menjawab kekhawatiran itu dengan sebuah kata, bukan dengan informasi.
Masalah dengan istilah ini
Pertama: "alami" tidak sama dengan "aman".
Minyak esensial murni adalah bahan alami, dan termasuk penyebab iritasi yang cukup sering pada kulit sensitif. Kacang adalah bahan alami. Bisa ular juga.
Sebaliknya, banyak bahan sintetis dipakai justru karena lebih murni dan lebih stabil daripada versi alaminya. Yang menentukan keamanan adalah bahan tertentu pada kadar tertentu, bukan dari mana asalnya.
Kedua: "bebas pengawet" adalah janji yang keliru.
Produk berbahan dasar air tanpa pengawet dapat ditumbuhi bakteri dan jamur dalam hitungan hari setelah dibuka. Krim yang terkontaminasi jauh lebih berisiko bagi kulit sensitif daripada pengawet yang dipakai pada kadar aman.
Pengawet akan selalu ada. Yang bisa dipilih adalah jenisnya.
Ketiga: daftar "tanpa" seringkali bukan pencapaian.
Sebuah sampo yang menuliskan "tanpa fluoride" tidak sedang menjelaskan apa pun, fluoride memang tidak dipakai di sampo mana pun. Daftar "tanpa" hanya berarti sesuatu ketika bahan itu memang lazim dipakai pada kategori tersebut, dan ketika alasannya dijelaskan.
Yang sebaiknya diperiksa
Empat hal, semuanya bisa Mama periksa sendiri.
1. Apakah seluruh bahannya dicantumkan
Daftar INCI wajib dicantumkan pada kosmetik. Yang membedakan adalah apakah merek itu menjelaskan isinya, atau hanya mencetaknya karena diwajibkan.
Kami mencantumkan seluruh bahan lengkap dengan fungsinya di Kamus Bahan, 173 bahan, termasuk pelarut dan pengawet yang jarang dipamerkan siapa pun.
2. Apakah setiap angka menyebutkan sumbernya
"90% Mama setuju" bisa berarti sembilan orang dari sepuluh, bisa juga sembilan ratus dari seribu. Keduanya sangat berbeda artinya, dan tanpa jumlah responden angka itu tidak bisa dinilai.
Setiap angka di situs ini membawa jumlah responden, tahun, dan metodenya. Semuanya dikumpulkan di halaman Bukti, termasuk angka yang tidak punya studi di belakangnya.
3. Apakah terdaftar BPOM
Nomor BPOM berarti produk itu sudah dinotifikasi dan komposisinya diperiksa terhadap daftar bahan yang dibatasi. Ini standar minimum. Produk tanpa nomor BPOM sebaiknya tidak dipakai selama kehamilan.
4. Apakah diuji, dan pada siapa
"Teruji dermatologis" berarti sesuatu bila disebutkan pusat pengujiannya, jumlah subjeknya, dan metodenya. Tanpa itu, kalimatnya hanya kalimat.
Bahan yang memang dihindari saat hamil
Daftar ini tidak butuh istilah pemasaran sama sekali:
Retinoid (retinol, tretinoin, adapalene), tidak dianjurkan selama kehamilan.
Hidrokuinon, penyerapannya melalui kulit relatif tinggi; umumnya dihindari.
Asam salisilat dosis tinggi, terutama pada peeling. Kadar rendah pada produk cuci umumnya dianggap aman.
Minyak esensial tertentu dalam kadar tinggi.
Bila ragu, tanyakan pada bidan atau dokter kulit, bukan pada label kemasan.
Posisi kami
Kami memakai bahan alami di mana bahan alami memang pilihan terbaik, dan menyebutkan angkanya dengan jumlah responden setiap kali kami menampilkan persentase.
Kami juga memakai pengawet, dan mengatakannya: formula kami 99% bahan alami, dengan kurang dari 1% pengawet aman yang menjaga produk tetap aman dipakai sampai habis. Menuliskan "100% alami" akan lebih enak dibaca, dan tidak benar.
Kami tidak menyebut diri clean beauty. Kekhawatiran di baliknya kami pahami. Istilah yang bisa diartikan sesuka hati hanya tidak membantu Mama menilai apa pun.
Yang membantu adalah daftar bahan yang lengkap, angka yang membawa sumbernya, dan alasan di balik setiap keputusan formula. Itu bisa diperiksa. Sebuah kata di kemasan tidak.
Pertanyaan yang sering diajukan
- Apakah clean beauty punya definisi resmi?
- Tidak. Tidak ada badan pengawas di Indonesia maupun di sebagian besar negara lain yang mendefinisikan istilah ini, sehingga setiap merek bebas menentukan artinya sendiri. Itu sebabnya dua produk berlabel clean beauty bisa punya isi yang sangat berbeda.
- Apakah bahan alami selalu lebih aman daripada bahan sintetis?
- Tidak selalu. Beberapa bahan alami termasuk penyebab alergi yang umum, sementara banyak bahan sintetis dipakai justru karena lebih stabil dan lebih murni. Yang menentukan keamanan adalah bahan tertentu pada kadar tertentu, bukan asal-usulnya.
- Kalau begitu, apa yang sebaiknya saya periksa?
- Empat hal: daftar bahan yang dicantumkan seluruhnya, klaim yang menyebutkan sumbernya, nomor BPOM, dan kejelasan produk itu diuji pada siapa. Semuanya bisa diperiksa sendiri, tanpa perlu percaya pada satu kata di kemasan.
- Apakah produk tanpa pengawet lebih aman?
- Justru sebaliknya. Produk berbahan air tanpa pengawet bisa ditumbuhi bakteri dan jamur dalam hitungan hari. Pengawet menjaga produk tetap aman dipakai sampai habis; yang bisa dipilih adalah jenis pengawetnya.
Sumber
- BPOM — regulasi notifikasi kosmetika di Indonesia
- Mama's Choice — daftar bahan lengkap untuk setiap produk, dipublikasikan di halaman Kamus Bahan
Bagikan artikel ini
Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Konsultasikan kondisi Mama dengan bidan atau dokter.





