Beli di Shopee dan TikTok Shop resmi kami, atau di stockist di seluruh Indonesia

Mama's Choice

Manfaat Daun Mint dan Peppermint: Apa Kata Penelitian?

Daun mint, minyak peppermint, dan mentol adalah bahan-bahan berbeda dengan bukti yang berbeda pula. Mana yang benar-benar didukung penelitian, dan mana yang tidak.

Ditulis oleh Tim Mama's ChoiceArtikel ini belum ditinjau oleh tenaga kesehatan.Terbit Diperbarui 5 menit baca
Secangkir teh daun mint dan seorang perempuan yang sedang pilek

Mint ada di mana-mana: teh, permen, pasta gigi, balsam, minyak angin. Karena itu pula klaim tentangnya ikut menumpuk, dari melangsingkan sampai mencegah kanker.

Masalahnya, sebagian besar klaim itu mencampur bahan-bahan yang sebenarnya berbeda, dan buktinya pun berbeda.

Daun Mint, Minyak Peppermint, dan Mentol Bukan Hal yang Sama

Peppermint punya nama botani Mentha × piperita. Tanda "×" itu bukan salah ketik: peppermint adalah tanaman hibrida, hasil persilangan antara water mint (Mentha aquatica) dan spearmint (Mentha spicata). Jadi menulis "mentha piperita" saja kurang tepat.

Dari satu tanaman itu muncul beberapa bentuk yang dipakai sangat berbeda:

  • Daun mint: daun utuh atau kering, dipakai sebagai bahan makanan dan teh.

  • Minyak peppermint: minyak atsiri hasil penyulingan daun. Jauh lebih pekat, dan inilah bentuk yang paling banyak diteliti.

  • Mentol: satu senyawa tunggal di dalam minyak tersebut, yang memberi sensasi dingin.

Perbedaan ini penting karena, menurut National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH), sebagian besar penelitian yang ada dilakukan pada minyak peppermint, bukan daun mint. NCCIH menyatakan secara eksplisit bahwa bukti yang ada belum cukup untuk menyimpulkan apakah daun peppermint bermanfaat untuk kondisi kesehatan apa pun.

Artinya, hasil penelitian pada kapsul minyak peppermint tidak otomatis berlaku untuk secangkir teh daun mint.

Sindrom Iritasi Usus (IBS) Paling Didukung Bukti

Ini penggunaan dengan bukti paling kuat, dan bukti itu pun bukan tentang daun.

NCCIH menyebutkan bahwa kapsul minyak peppermint bersalut enterik (enteric-coated, yaitu salut yang membuat kapsul baru pecah setelah melewati lambung) dapat membantu meredakan gejala IBS, terutama nyeri perut. Salut itu bukan detail teknis semata, tanpa salut, minyak peppermint justru cenderung menimbulkan rasa panas di ulu hati.

Yang perlu dicatat: jumlah penelitiannya masih terbatas dan mutunya beragam, sehingga kesimpulannya belum sekuat obat resep. IBS juga perlu didiagnosis dokter lebih dulu, nyeri perut berulang punya banyak penyebab lain yang lebih serius.

Gangguan Pencernaan Fungsional

Untuk dispepsia fungsional, rasa penuh, begah, dan tidak nyaman di ulu hati tanpa penyebab struktural, kombinasi minyak peppermint dan minyak jintan (caraway) menunjukkan hasil yang menjanjikan pada beberapa studi. Sekali lagi: minyak, dalam sediaan tertentu, bukan daun mint yang diseduh.

Klaim populer bahwa mint "memperbaiki aliran empedu untuk memecah lemak" tidak punya dasar yang memadai dan sebaiknya tidak dipakai.

Bukti untuk Mual Masih Campur Aduk

Aromaterapi peppermint untuk mual sudah beberapa kali diteliti, tetapi hasilnya tidak konsisten dan ukuran studinya kecil. Belum ada bukti yang cukup untuk menyebutnya efektif.

Untuk mual saat hamil, mint boleh saja dipakai bila aromanya membuat Mama merasa lebih nyaman, tetapi posisinya sebatas itu, bukan pengobatan. Langkah yang lebih dulu terbukti adalah makan dalam porsi kecil tapi sering, menghindari pemicu bau, dan menjaga asupan cairan. Bila mual sampai membuat Mama sulit makan, minum, atau berat badan turun, itu perlu diperiksa dokter.

Hidung Tersumbat Terasa Lega Tanpa Aliran Udara Bertambah

Ini salah satu hal yang paling sering disalahpahami tentang mentol.

Mentol mengaktifkan reseptor dingin di dalam hidung, sehingga napas terasa lebih lega. Namun pengukuran aliran udara di hidung umumnya tidak menunjukkan perbaikan yang berarti. Sensasi lega itu nyata dan bisa membuat lebih nyaman, tetapi hidung yang tersumbat tidak benar-benar terbuka karenanya.

Klaim bahwa mint "membunuh bakteri penyebab penyakit pernapasan" juga tidak didukung bukti pada manusia.

Sakit Kepala Tegang

Beberapa studi kecil meneliti minyak peppermint 10% yang dioleskan di dahi dan pelipis untuk sakit kepala tegang, dengan hasil yang menjanjikan. Buktinya masih terbatas, dan minyak atsiri murni tidak boleh dioleskan langsung tanpa diencerkan karena bisa mengiritasi kulit.

Napas Segar

Mint memang membuat napas terasa segar, dan itu memang salah satu alasan utamanya dipakai dalam produk perawatan mulut. Tetapi yang membersihkan plak dan sela gigi adalah menyikat gigi dan flossing, bukan rasa mintnya. Mint menutupi bau; ia tidak menggantikan pembersihan.

Kalau bau mulut tetap ada meski gigi rutin disikat, penyebabnya sering ada di gusi. Gusi berdarah saat hamil termasuk yang perlu diperiksa.

Yang Tidak Terbukti

Beberapa manfaat yang sering beredar tidak punya dukungan bukti yang memadai pada manusia:

  • Mencegah atau mengobati kanker. Memorial Sloan Kettering Cancer Center menyatakan langsung bahwa peppermint belum terbukti mengobati atau mencegah kanker pada manusia. Adanya antioksidan di laboratorium bukan bukti pencegahan kanker pada orang.

  • Menurunkan berat badan. Tidak ada bukti bahwa mint membakar lemak.

  • Menyuburkan rambut atau menghilangkan ketombe.

  • Anti alergi atau meningkatkan kekebalan tubuh.

  • Menyembuhkan iritasi dan luka pada kulit.

Mint Tidak Cocok untuk Semua Orang

GERD dan refluks asam lambung. Peppermint melemaskan otot cincin di antara kerongkongan dan lambung, sehingga asam lambung lebih mudah naik. Rasa panas di dada adalah efek samping minyak peppermint yang paling umum, dan pada orang dengan GERD gejalanya bisa memburuk.

Bayi dan anak kecil. Produk mengandung mentol atau minyak peppermint tidak boleh dioleskan pada wajah atau dada bayi dan anak kecil, pada kelompok usia ini hal tersebut dapat memicu gangguan pernapasan yang serius.

Masalah kandung empedu atau saluran empedu. Konsultasikan dulu dengan dokter sebelum memakai minyak peppermint.

Ibu hamil dan menyusui. Mint dalam jumlah wajar sebagai makanan dan minuman umumnya tidak bermasalah. Namun minyak peppermint dalam dosis pengobatan belum cukup diteliti pada kehamilan dan menyusui, jadi bicarakan dulu dengan dokter atau bidan.

Kulit. Minyak atsiri murni perlu diencerkan sebelum dioleskan. Tanpa itu, ia bisa menyebabkan iritasi.

Ringkasnya

Yang paling didukung bukti dari peppermint adalah kapsul minyak bersalut enterik untuk gejala IBS, dan itu pun dengan bukti yang terbatas. Selebihnya, mint adalah bahan yang menyenangkan dan menyegarkan, dan tidak apa-apa memakainya untuk alasan itu saja.

Kalau yang Dicari Sensasi Segar di Mulut

Untuk perawatan mulut sehari-hari, kesegaran mint memang pada tempatnya. Mama’s Choice Non-Fluoride Toothpaste diformulasikan dengan ekstrak daun mint dan klorofil, untuk rasa segar tanpa sensasi yang terlalu tajam, hal yang berarti bagi Mama hamil yang mudah mual saat menyikat gigi.

Formulanya tanpa detergen sulfat (SLS), fluoride, alkohol, dan paraben, sehingga aman digunakan ibu hamil, menyusui, dan seluruh anggota keluarga.

Mama’s Choice Non-Fluoride Toothpaste dengan mint dan klorofil

Paraben free, dermatologically tested, hypoallergenic, sulfate free

Baca juga: Mengapa Pasta Gigi Tanpa SLS Lebih Sehat?

Sumber

Bagikan artikel ini

Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Konsultasikan kondisi Mama dengan bidan atau dokter.

Produk yang disebut di artikel ini

Non-Fluoride Toothpaste

Hygiene & Feminine Care

Non-Fluoride Toothpaste

Rp 75.999Rp 109.000hemat 30%

4.9 · 118 ulasan

Baca juga