Search

Social Distancing Bersama Suami, Ini Dia 4 Masalah yang Sering Muncul

Social distancing yang dijalani masuk hari ke berapa, ya

Tak dipungkiri social distancing lama-lama bisa bikin stres, lho,  kalau dihitung seperti itu. Padahal masih banyak hal esensial yang pantas dijadikan prioritas, misalnya nih, menjaga kualitas hubungan dengan pasangan. Tapi ada aja, deh, tantangannya. 

Apalagi untuk Mama yang baru saja dikaruniai si kecil. Perjalanan hormon masih seperti roller coaster, rentan terpicu marah, sedih, bahkan stres.

Nah, setelah sekian minggu menjalankan social distancing, saya perhatikan beberapa hal di bawah ini jadi sumber masalah antara suami dan istri. 

1. Merasa cemas

Tidak ada satupun keluarga yang pernah menyangka akan menjalani kehidupan seperti sekarang. Kecemasan yang muncul beragam. Yang paling dasar soal keselamatan anggota keluarga. Jadinya reaksi yang muncul: paranoid. Si Mama yang berulang kali mengingatkan pasangan, kalau habis keluar wajib mengikuti protokoler yang disarankan para tenaga medis. Tapi pak suami suka bandel, atau mungkin sebaliknya. 

Ada baiknya Mama dan pasangan duduk bareng dulu. Diskusi tentang apa saja yang sumber kecemasan dari Mama dan pasangan. Lalu buat kesepakatan bagaimana mengatasi tiap poin kecemasan itu. Jadi semuanya terang benderang, tidak saling memendam dan akhirnya mudah tersulut emosi. 

Baca juga: Perhatian Papa Sangat Penting! 4 Cara Ini Bisa Memanjakan Mama

2. Lelah psikis dan fisik

Setelah menjalani work from home nyaris sebulan, harus saya akui WFH itu jauh lebih melelahkan, terutama dari segi psikis, ya. Hal ini disebabkan, fokus terbagi dalam sekian hal. Pekerjaan, domestik, anak sekaligus masih harus memerhatikan “kewarasan” diri sendiri.”

Sedikit saja pasangan atau anak bikin masalah, bisa menstimulasi kita menjadi marah. Bahaya? Iya, suasana rumah bakalan nggak sehat kalau tidak cepat diintervensi. Terlebih untuk kondisi kesehatan. Para pakar bilang stres menjadi salah satu faktor sistem imunitas seseorang menurun. 

Dikatakan dalam simplypsychology.org, “ketika kita sedang stres, kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk melawan antigen berkurang. Itu sebabnya kita lebih rentan terhadap infeksi. Hormon stres kortikosteroid dapat menekan efektivitas sistem kekebalan tubuh (contohnya, menurunkan jumlah limfosit, yaitu salah satu jenis sel darah putih, yang berfungsi sebagai bagian dari sistem daya tahan tubuh.)”

Untuk itu pandai-pandailah negosiasi dengan pasangan. Cari cara paling mudah menyiasati kelelahan psikis Mama dan semua anggota keluarga. Salah satu caranya, mungkin bisa dicoba saling memijat. 

Gunakan minyak yang punya sensasi menenangkan sekaligus menyegarkan. Seperti kandungan utama yang dimiliki Mama’s Choice Relaxing Massage Oil, yaitu minyak lavender, sejuk di kulit, ketika menghirup aromanya menjadi rileks.

Selain itu, Mama’s Choice Relaxing Massage Oil aman digunakan karena:

-Terbuat dari 100% bahan alami, tanpa bahan kimia. Aman digunakan untuk ibu hamil dan menyusui. 

-Selain mengandung minyak lavender. Ada grapefuit oil, aromanya mampu meningkatkan mood. Terakhir orange oil, menutrisi kulit dan melembapkan. 

-Saya sudah coba, ni, Mama. Formulanya ringan, ketika kita gosok ke kulit langsung menyerap, tidak bikin kulit lengket. 

-Kalau Mama punya diffuser, silakan gunakan sebagai aroma terapi.

-Bersertifikasi halal dan tidak menimbulkan alergi.

3. Pembagian porsi bermain dengan si kecil

Kalau sehari-hari Mama dan pasangan bekerja, atau salah satunya saja, sekarang semua ada di rumah. Biasanya anak kalau ada orangtuanya akan lebih demanding. Karena merasa ada sosok yang bisa membuat dirinya nyaman dan aman.

Sementara urusan pekerjaan dan domestik juga menanti diselesaikan. Butuh kesepakatan yang jelas, mengatur jadwal bermain. Jika kondisinya tidak ada asisten rumah tangga, atau orang rumah lainnya. Sudah pasti mesti bergantian. Tapi kalau ada support system yang bisa bantu, akan terasa lebih ringan. Setidaknya urusan domestik rumah, sudah ada yang bertanggung jawab. Mama dan suami, bisa fokus menentukan waktu paling nyaman main sama si kecil. 

4. Minimnya interaksi dengan orang lain

Wajah-wajah yang sama akan Mama temui dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Selama 24 jam dan sekian puluh hari ke depan, melulu seperti itu. Sementara yang namanya manusia, salah satu kebutuhan dasar kita adalah sosialisasi. 

Mama dan pasangan, sedang kehilangan porsi yang besar, terkait hal ini. Apa yang bisa dilakukan? Manfaatkan teknologi ngobrol jarak jauh yang bisa mengumpulkan sekian orang dalam satu kesempatan. 

Saya dan suami melakukan ini secara berkala, di lingkungan pertemanan masing-masing, minimal satu minggu sekali. Walau bertemu virtual, secara emosi kami saling terkait, merasa tidak sendiri, sahabat-sahabat kami pun sedang melalui masa yang tidak pasti. 

Saling menguatkan dan saling mengingatkan, semua pasti ada ujungnya. 

Baca juga: Tak Cuma Pelukan Suami, 5 Sentuhan Ini Bisa Membuat Ibu Hamil Bahagia

Di masa social distancing, penting untuk mengatur ekspektasi kita atas hal apapun. Tidak perlu menjadi Mama yang sempurna. Mampu bertahan dengan kondisi sekarang saja, Mama sudah mengukir prestasi tersendiri. Percaya Ma, pilihan #dirumahaja adalah pilihan aman untuk saat ini.

anita

Biasa dipanggil Thatha, senang menulis sejak SMP. Ibu dari satu orang anak laki-laki. Pencinta travelling, kopi, fotografi, dan tanaman hias. "Put your own oxygen mask on first so you have enough air to breathe and energy for yourself before you can assist and give to others.” –NN , adalah prinsip hidupnya menjalani peran sebagai ibu, istri, penulis dan pribadi seutuhnya.

Keranjang Anda (0)

Close

Belanja Rp90,000 lagi untuk dapat free ongkir!

Mini Cart

Keranjang belanja Anda kosong.

Shop now