Belanja di toko resmi kami, TikTok Shop, Shopee, dan stockist di seluruh Indonesia

Mama's Choice

Memaafkan Diri Sendiri, Jangan Ditunda!

“Kenapa harus memaafkan diri sendiri? Memangnya saya salah apa?” Kalau pertanyaan ini diajukan ke saya, jawabannya: “salah saya sama diri sendiri banyak!”.

Ditulis oleh Tim Mama's ChoiceArtikel ini belum ditinjau oleh tenaga kesehatan.Terbit Diperbarui 5 menit baca
Memaafkan Diri Sendiri, Jangan Ditunda!

“Kenapa harus memaafkan diri sendiri? Memangnya saya salah apa?” Kalau pertanyaan ini diajukan ke saya, jawabannya: “salah saya sama diri sendiri banyak!”. Namanya ibu, ya, juga manusia, secara sadar atau tidak, kita telah mengizinkan diri ini terlibat dengan banyak hal yang di luar kendali.

Kepikiran terus kesalahan-kesalahan di masa lampau yang pernah kita perbuat, cuma “mikirin”, kapan memaafkan? Itu pertanyaan yang menurut saya lebih urgent. 

**“Coba waktu itu aku lebih melek soal ASI, kan si kecil bisa lulus program ASI eksklusif” Hehehe, saya sekalian curhat, Ma, karena ini nih, salah satu kesalahan saya di masa lalu. Kurang ngulik tentang ASI sebelum hamil. Ya, tapi mau sampai kapan kita terlalu tenggelam dalam kubangan rasa bersalah? Seperti yang dikatakan Dr. Fred Luskin holds a Ph.D, Konselor dan Psikologi Kesehatan dari Universitas Stanford,**dia bilang:

“Halangan terbesar untuk memaafkan diri sendiri adalah kecenderungan kita terlalu lama berkubang dalam rasa bersalah.”

Lebih fatal lagi kalau sudah ada ditahap, “merasa buruk bukan hanya karena kita tahu itu salah, tapi seolah menarik perasaan buruk  itu untuk menutupi dirinya seperti selimut dan menolak untuk berhenti meratap.” jelas Luskin lebih detail.

STOP sampai di sini yuk, Ma. Sementara Mama masih meratapi kesalahan-kesalahan di masa lalu, entah itu di ranah parenting, pekerjaan, pernikahan, pertemanan dan seterusnya, dunia terus berjalan, dan arahnya ke masa depan, waktu yang paling jauh adalah masa lalu. 

Memaafkan Diri Sendiri, Jangan Ditunda!

Kenapa penting untuk memaafkan diri sendiri?

Menurut scopeblog.stanford.edu , dalam sebuah penelitian menunjukkan mereka yang terus berlatih memaafkan diri sendiri memiliki mental dan emosi yang baik, sikap yang lebih positif, dan hubungan yang lebih sehat (ini kemungkinan besar, relasi individu dengan diri sendiri dan orang-orang sekitarnya, ya, Ma). Selain itu akan memiliki produktivitas, fokus, dan konsentrasi yang lebih tinggi. 

“Mereka yang baik pada diri sendiri, akan mengurangi kecemasan dan depresi.”

Langkah-langkah memaafkan diri sendiri, menurut Dr. Fred Luskin holds a Ph.D

  1. Tahu persis bagaimana perasaan Mama tentang apa yang sudah Mama lakukan. Mampu menjabarkan kesalahan secara spesifik, dan apa dampak negatif yang ditimbulkan. Tapi jangan pendam sendiri, ceritakan pada orang yang paling Mama percaya, tentang perasaan Mama.

  2. Memahami pengampunan. Pengampunan memungkinkan Mama merasa damai, meskipun Mama melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Mama mungkin masih butuh waktu berdamai dengan seseorang yang Mama sakiti, atau sebaliknya. Tapi yang paling penting adalah berdamai dengan diri sendiri.

  3. Pengampunan diri dapat didefinisikan sebagai pengakuan bahwa setiap orang termasuk Mama membuat kesalahan, bahwa kesalahan dan rasa malu dapat digantikan dengan menebus kesalahan dan mengembangkan cara-cara yang lebih baik untuk berperilaku, dan bahwa cerita yang menyakitkan, bisa Mama lepaskan.

  4. Ketahuilah bahwa kesusahan utama Mama berasal dari perasaan, pikiran, dan gangguan fisik yang Mama alami saat ini, bukan yang Mama lakukan dua menit atau sepuluh tahun lalu.

  5. Mempraktikkan manajemen stres dengan bernapas perlahan ke dalam dan keluar dari perut Mama sambil berfokus pada seseorang yang Mama cintai.

Baca juga: “Nggak apa-apa, Ma, ngerasa lelah. Jangan lupa istirahat, ya!”

  1. Berhenti menuntut hal-hal dari diri atau hidup Mama yang tidak terjadi. Kenali “aturan yang tidak bisa diterapkan” yang Mama miliki tentang bagaimana Anda seharusnya berperilaku. Yuk, kita ingat-ingat lagi, bahwa setiap manusia membuat kesalahan. Masing-masing kita berpotensi tidak dapat melakukan sesuatu yang selalu benar, di tempat dan waktu yang bersamaan. 

  2. Jika Mama telah menyakiti orang lain atau diri sendiri, cari cara untuk minta maaf dengan tulus. Poin yang terpenting, ubah perilaku kita, sehingga tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Langkah-langkah memaafkan diri sendiri, menurut Dr. Fred Luskin holds a Ph.D

  1. Apresiasi diri sendiri! Luangkan waktu setiap hari untuk mengakui hal-hal baik yang sudah Mama lalukan.

  2. Ubah kisah Mama tentang kegagalan dan penyesalan, sebagai momentum membuat pilihan yang berani untuk belajar, tumbuh dan memaafkan diri sendiri.

Kami keluarga besar Mama’s Choice mengucapkan, Selamat Idul Fitri 1441 Hijriah, Mohon Maaf Lahir & Batin. Jangan lupa (juga) memaafkan diri sendiri, setelah Mama selesai bermaafan dengan handai taulan dan keluarga. Selamat berkumpul dengan orang-orang tersayang, Ma. 

Rasa Bersalah yang Paling Sering Dialami Mama

Hampir semua rasa bersalah ini muncul dari standar yang tidak pernah Mama setujui, tetapi entah bagaimana tetap Mama pakai untuk menilai diri sendiri.

Persalinan yang tidak sesuai rencana. Caesar setelah berencana normal, atau induksi setelah berharap alami. Cara bayi lahir bukan ujian yang bisa gagal.

Menyusui yang tidak berjalan. Produksi ASI kurang, puting lecet, atau keputusan berhenti. Bayi yang cukup makan dan ibu yang tidak hancur adalah tujuannya.

Kembali bekerja. Atau justru berhenti bekerja. Kedua pilihan datang dengan rasa bersalahnya masing-masing.

Marah atau kehilangan kesabaran. Ini yang paling jarang diakui dan paling banyak dipendam.

Merasa tidak langsung jatuh cinta. Ikatan dengan bayi kadang tumbuh berminggu-minggu, bukan seketika.

Membedakan Rasa Bersalah dan Rasa Malu

Keduanya terasa mirip, tetapi bekerja sangat berbeda.

Rasa bersalah berkata: saya melakukan sesuatu yang salah. Ia bisa berguna, mendorong meminta maaf dan memperbaiki.

Rasa malu berkata: saya memang buruk. Ia tidak mengarah ke perbaikan apa pun, hanya ke bersembunyi.

Sebagian besar yang dialami Mama pada tahun pertama adalah rasa malu yang menyamar sebagai rasa bersalah. Membedakannya adalah langkah pertama, karena rasa bersalah punya jalan keluar dan rasa malu perlu dibongkar dulu.

Latihan yang Bisa Dicoba Minggu Ini

Bicara pada diri sendiri seperti pada sahabat. Kalau sahabat Mama menceritakan hal yang sama, apa yang akan Mama katakan? Hampir pasti bukan yang Mama katakan pada diri sendiri.

Pisahkan fakta dari tafsir. "Saya berteriak pada anak saya" adalah fakta. "Saya ibu yang buruk" adalah tafsir. Tulis keduanya terpisah dan lihat mana yang benar-benar terbukti.

Perbaiki, lalu berhenti. Bila memang ada yang perlu diperbaiki, lakukan, minta maaf pada anak yang cukup besar untuk mengerti, atau ubah caranya besok. Setelah itu, mengulang penyesalan tidak menambah apa pun.

Tanya apa yang Mama harapkan dari diri sendiri. Sering kali standarnya adalah standar yang tidak akan Mama terapkan pada ibu lain mana pun.

Kapan Perlu Bicara dengan Profesional

Rasa bersalah yang wajar berkurang seiring waktu dan tidak menghalangi Mama menjalani hari.

Cari bantuan bila rasa bersalah itu menetap lebih dari dua minggu, membuat Mama menghindari bayi atau merasa jauh darinya, disertai sulit tidur meski lelah, atau muncul pikiran bahwa keluarga akan lebih baik tanpa Mama.

Yang terakhir adalah alasan untuk mencari bantuan hari itu juga.

Ringkasnya

Rasa bersalah menunjuk perbuatan; rasa malu menunjuk diri. Yang pertama bisa diselesaikan, yang kedua perlu dibantah.

Bicaralah pada diri sendiri seperti Mama bicara pada sahabat, dan bila rasa itu tidak juga mereda setelah dua minggu, ceritakan pada tenaga kesehatan.

Langkah-langkah memaafkan diri sendiri, menurut Dr. Fred Luskin holds a Ph.D

Bagikan artikel ini

Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Konsultasikan kondisi Mama dengan bidan atau dokter.

Baca juga