Search

Sebabkan Kematian, Waspadai Gejala Eklampsia pada Ibu Hamil!

Eklampsia adalah komplikasi parah pada ibu hamil yang terjadi akibat kondisi preeklampsia yang tidak tertangani dengan baik. Kasus ini terbilang jarang terjadi, namun bahayanya perlu diantisipasi sejak dini.

Perpanjangan gejala preeklampsia yang juga merupakan komplikasi kehamilan ini bisa menyebabkan kematian. Tak hanya pada janin, melainkan juga pada ibu hamil.

Apa gejala eklampsia?

Pada dasarnya, eklampsia memiliki gejala yang sama dengan preeklampsia. Perbedaannya ialah eklampsia disertai dengan kejang-kejang.

Selain itu, baik preeklampsia ataupun eklampsia juga bisa dipengaruhi oleh riwayat penyakit ginjal dan diabetes. Adapun gejala umum preeklampsia dan eklampsia antara lain adalah sebagai berikut:

  • Tekanan darah tinggi
  • Bengkak di area wajah maupun tangan
  • Sakit kepala
  • Pertambahan berat badan yang berlebihan
  • Mual dan muntah
  • Mengalami masalah penglihatan, termasuk episode kehilangan penglihatan atau penglihatan kabur
  • Sulit buang air kecil
  • Perut terasa sakit, khususnya di perut sebelah kanan atas
  • Kejang
  • Hilang kesadaran
  • Perasaan gelisah dalam waktu yang sangat lama

penyebab eklampsia

Eklampsia adalah hal yang bisa terjadi pasca persalinan

Tak hanya terjadi sebelum melahirkan, ternyata kondisi eklampsia juga bisa terjadi pasca melahirkan atau postpartum. Umumnya hal ini merupakan perpanjangan dari preeklampsia yang tidak ditangani dengan baik pada saat hamil.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi eklampsia terjadi paska melahirkan antara lain:

1. Tekanan darah tinggi

Tekanan darah yang tinggi bisa merusak arteri dan pembuluh darah. Akibatnya, aliran darah ke seluruh tubuh menjadi tidak lancar. Kinerja otak, paru-paru serta jantung pun menjadi tidak maksimal. Inilah alasan mengapa eklampsia juga ditandai dengan adanya kejang.

2. Proteinuria

Umumnya, preeklampsia akan memengaruhi fungsi ginjal. Protein dalam urin atau yang dikenal juga dengan istilah proteinuria adalah tanda umum dari kondisi ini.

Ginjal bertugas menyaring limbah dari darah dan membuat urin dari limbah tersebut. Namun, ginjal juga mencoba untuk memertahankan nutrisi dalam darah, seperti protein, untuk didistribusikan kembali ke tubuh.

eklamsia kehamilan

Apabila filter ginjal atau yang disebut glomeruli itu rusak, maka protein dapat bocor atau lolos dari penyaringan dan  kemudian dikeluarkan ke dalam urine. Ditemukannya protein dalam urine merupakan tanda klinis penting dalam mendiagnosis preeklampsia pada ibu hamil, yang dapat berpengaruh juga pada eklampsia.

Selain itu, masih ada beberapa faktor lainnya yang diduga dapat meningkatkan risiko preeklampsia dan eklampsia pada ibu hamil. Di antaranya adalah:

  • Hamil pada usia remaja dan di atas usia 40 tahun
  • Memiliki riwayat preeklampsia dan eklampsia di kehamilan sebelumnya
  • Obesitas
  • Mengalami hipertensi sebelum hamil
  • Hamil yang dilakukan melalui donor sel telur atau inseminasi buatan
  • Kehamilan berganda
  • Mengalami anemia sel sabit
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah

Apa pengaruh eklampsia pada janin?

Baik preeklampsia maupun eklampsia dapat berpengaruh pada kondisi plasenta, yaitu organ yang mengirimkan oksigen dan nutrisi dari darah ibu ke janin. Ketika tekanan darah terlalu tinggi, hal ini dapat menyebabkan plasenta tidak dapat berfungsi dengan optimal.

Jika nutrisi dan oksigen tidak sepenuhnya mengalir ke janin melalui plasenta, hal ini tentu akan berpengaruh pada tumbuh kembang janin di dalam kandungan. Misalnya, kondisi bayi lahir dengan berat badan rendah, persalinan prematur, solusio plasenta, hingga keguguran atau stillbirth.

Pada akhirnya dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah atau mengalami masalah kesehatan lainnya. Masalah dengan plasenta juga sering berkaitan dengan persalinan prematur, bahkan ada pula yang bayi lahir mati atau stillbirth.

5 cara mencegah eklampsia 

1. Mengonsumsi aspirin dengan dosis rendah

Aspirin berperan untuk mencegah penggumpalan darah dan pengecilan pembuluh darah, sehingga dapat mencegah munculnya preeklampsia. Konsumsi aspirin dengan dosis rendah juga dapat menurunkan risiko kematian janin akibat eklampsia, menurunkan risiko kelahiran prematur, dan mencegah abrupsio plasenta.

2. Selalu menjaga tekanan darah

Perempuan yang memiliki riwayat hipertensi sebelum hamil harus menjaga tekanan darah demi untuk menurunkan risiko eklampsia. Menjaga tekanan darah dapat dimulai saat perencanaan kehamilan hingga persalinan.

cara mencegah darah tinggi saat hamil

3. Konsumsi suplemen dan vitamin

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian suplemen yang mengandung arginin dan vitamin, terutama yang bersifat antioksidan, dapat membantu menurunkan risiko preeklampsia dan eklampsia. Khususnya jika dimulai sejak usia kehamilan 24 minggu.

4. Mengatasinya dengan melahirkan segera

Melahirkan bayi dengan segera adalah jalan keluar yang disarankan untuk kondisi preeklampsia dan eklampsia. Namun, dokter juga tetap harus mempertimbangkan tingkat keparahan penyakit dan seberapa matang kondisi bayi ketika direkomendasikan untuk dilahirkan.

Jika dokter mendiagnosis ibu hamil dengan preeklampsia ringan, mereka akan memantau terus kondisi sang ibu sembari diberikan obat-obatan untuk mencegahnya berubah menjadi eklampsia. Hal itu akan membantu menjaga tekanan darah dalam kisaran yang lebih aman sampai bayi cukup matang untuk dilahirkan.

Sedangkan jika ibu hamil mengalami preeklampsia dan eklampsia yang parah, dokter mungkin akan melahirkan bayi lebih awal. Rencana perawatan akan tergantung pada usia kehamilan dan tingkat keparahan penyakit.

5. Lakukan gaya hidup sehat

Ini juga merupakan salah satu langkah pencegahan. Sebaiknya, Mama meminta rekomendasi dokter atau tenaga kesehatan untuk pola hidup sehat yang akan Mama lakukan.

Biasanya, ibu hamil yang mengalami preeklampsia dianjurkan untuk diet atau meninjau setiap nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. Tentu saja makanan pemicu darah tinggi seperti fast food, makanan instan, kulit ayam, makanan yang mengandung pemanis buatan, dan kafein harus dihindari.

Mama juga harus beristirahat total dengan posisi miring ke kiri sesuai demi menjaga posisi janin di dalam kandungan. Memperbanyak konsumsi air putih juga sangat dianjurkan agar kondisi tubuh menjadi lebih seimbang.

Jangan lupa, menerapkan pola hidup sehat juga harus memilih produk yang aman digunakan selama kehamilan. Apapun itu, mulai dari sampo, sabun, lotion, hingga produk perawatan lainnya.

Dapatkan diskon hingga 40% tanpa minimum pembelian dan gratis biaya kirim ke seluruh Indonesia!* Klik di sini untuk informasi selengkapnya.

Referensi : Healthline dan Alodokter

Author Tya

Tya

Gemar menulis dan bercerita. Membagikan kisah, pengalaman dan inspirasi melalui kata-kata. Perempuan yang terlihat melodrama, tapi suka tertawa. Sedang bersiap-siap menanti kehadiran si kecil dalam hidupnya. Agar semakin menyenangkan, berceritalah ia. Di sini.

COMMENTS

0 Comments
Leave a comment

Keranjang Anda (0)

Close

Belanja Rp90,000 lagi untuk dapat free ongkir!

Mini Cart

Keranjang belanja Anda kosong.

Shop now
1
0